Tampilkan postingan dengan label Coco Peat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coco Peat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Februari 2013

Temu pakar di gelar MSI mendukung GERNAS SINGKONG


Bogor, Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) mengundang para pakar pertanian, pakar industri mocaf, industri tapioca, para pengusaha industry singkong untuk berdialog dalam acara temu pakar (Tapioka dan Mocaf) dalam Rangka memperkuat GERNAS ‘SSB’ untuk mencapai Misi dan Visi Masyarakat Singkong Indonesia 2013-2014. Acara tersebut diadakan MSI di kantor pusat nya di Tapos, Ciawi Bogor (30/1).


Dalam acara tersebut, yang hadir diantaranya adalah prof Win Nugroho, DR Thamrin Chaniago, ir. Kartono, DR. Ir. Soemitro Arintadisastra pakar penyuluhan dan pupuk cair (poca), Elfi Ramli pakar Coco peat sebagai media tanam, ibu Tukiyem mewakili ibu Tiara dan Samarinda, Kalimantan petani sukses yang telah berhasil dalam budidaya singkong unggul (F1) dengan media tanam coco peat.

Selain itu undangan yang hadir adalah Ketua Umum Induk Koperasi ABRI (INKOPABRI), Marskal Madya (U) Tamtama,  yang menyatakan siap mendukung dan membantu MSI mengenai kebutuhan masalah lahan dan keamanan lahan masyarakat singkong Indonesia.

Temu Pakar MSI-  Ketua INKOPABRI Marskal Madya (U) Tamtama,

Acara temu pakar singkong ini di buka oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional MSI, H. Suharyo Husen BSC,SE.MBA, dalam sambutannya disampaikan maksud dan tujuan temu pakar ini adalah untuk mendukung GERNAS SSB MSI 2013 – 2014. Dialog terbuka dibagi menjadi empat kelompok dengan topic yang berbeda antaralain, masalah budidaya, kelembagaan dan pemasaran, industry mocaf, industry tapioca. 

Temu pakar MSI - Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI)

Diskusi berjalan seru, santai namun serius dan kekeluargaan, pada penghujung diadakan rapat pleno untuk menyimpulkan hasil diskusi dan rencana kegiatannya.


Tentang masalah pengolahan mocaf, hasil diskusi yang disimpulkan oleh Ir. Susilohadi adalah,  Fokus mocaf adalah pada Rekayasa Dryer yang sesuai untuk kelompok tani 20 orang/kelompok,  akan di tempatkan mesin-mesin pengolah Mocaf di lahan MSI Sukabumi yang terdiri dari mesin perajang, mesin peniris, mesin pengering dan mesin penepung mocaf. Untuk mengolah singkong di lahan tersebut, yang luas nya mencapai 700 Ha.
Temu Pakar MSI- Fokus Mocaf pada Rekayasa Dryer

Masalah pengembangan budidaya singkong, di simpulkan oleh Sutrisno, akan diadakan uji coba oleh MSI mengunakan media tanam Coco peat + Pupuk+ Nutrisi di lahan yang telah disediakan oleh MSI di Lido Sukabumi. Dan terkait hal tersebut telah di buat MOU dengan  Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI) terkait suplai coco peat.  Dan MOU dengan INKOPABRI terkait kerjasama lahan milik nya yang tersebar di seluruh daerah militer (Kodam). dan penandatangan MOU tersebut  akan dilaksanakan pada akhir Februari 2013.

Temu Pakar MSI- Budidaya Singkong dengan Media tanam Cocopeat

Sedangkan masalah kelembagaan, pemasaran dan permodalan, disimpulkan oleh Yoyok Wastoyo, akan di bentuk koperasi di tingkat nasional,dan daerah, propinsi dan kabupaten. Dan untuk kerjasama MSI dengan perusahaan besar akan menggunakan PT. AKPI Maju Bersama yang saham nya dimiliki oleh koperasi anggota MSI. (RHp)




Selasa, 29 Januari 2013

Singkong dan Sabut Kelapa

Ketua Umum Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI), Efli Ramli Elfi, menyambut baik tawaran kerjasama Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) untuk menggenjot produksi singkong demi mengurangi ketergantungan pada impor gandum.

Ini menyusul sukses ujicoba penanaman singkong di lahan tandus dengan aplikasi serbuk sabut kelapa (coco peat) yang menghasilkan singkong sebanyak 500 sampai 800 ton per hektar.

Menurut Efli Ramli Elfi, " Selain dapat meningkatkan produktivitas lahan, kata dia, penggunaan aplikasi serbuk sabut kelapa pada tanaman singkong juga memudahkan proses panen karena tanah yang mengikat batang singkong dan umbi selalu dalam kondisi gembur dan lembab. "

Ketua Umum MSI, Suharyo Husen, mengapresiasi inovasi AISKI yang berhasil meningkatkan produktivitas tanaman singkong dengan aplikasi serbuk sabut kelapa.

Suharyo yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komite Tetap Industri Derivatif Pertanian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) ini, mengatakan acara temu pakar, tanggal 30 Januari 2013, yang rencananya digelar di Tapos, Ciawi, Bogor, Jawa Barat tersebut, akan dihadiri sekitar 60 pakar singkong dan ahli pertanian Indonesia.

"Sekitar 60 pakar telah diundang untuk bicara tentang produktivitas, tapioka, mocaf (modified cassava flour) dan pemasaran. MSI siap bekerja sama dengan AISKI untuk mensejahterakan petani kelapa dan petani singkong Indonesia," kata Suharyo.

Sebagaimana diketahui, untuk dapat berproduksi optimal, tanaman singkong membutuhkan curah hujan 150-200 mm pada umur 1-3 bulan, 250-300 mm pada umur 4-7 bulan, dan 100-150 mm pada fase menjelang dan saat panen.

Namun, dengan kemampuan serbuk sabut kelapa yang dapat menyerap dan menyimpan air 300 persen lebih dari kemampuan lahan, menjadikan tanaman singkong dapat tumbuh survive di musim kemarau.

Serbuk sabut kelapa memiliki kandungan trichoderma molds, sejenis enzim dari jamur yang dapat mengurangi penyakit dalam tanah, menjaga tanah tetap gembur, subur dan memudahkan umbi pada tanaman singkong tumbuh dengan cepat, besar, dan panjang.

Selain itu, ia juga memiliki pori-pori yang memudahkan terjadinya pertukaran udara, dan masuknya sinar matahari. Di dalam coco peat juga terkandung unsur-unsur hara dari alam yang sangat dibutuhkan tanaman, berupa kalsium (Ca), magnesium (Mg), natrium (Na), nitrogen (N), fospor (P), dan kalium (K).

Referensi
http://www.suarapembaruan.com/home/aiski-genjot-produksi-singkong-kurangi-impor-gandum/29843
http://www.tribunnews.com/2013/01/14/tiara-panen-singkong-800-ton-per-hektar-berkat-coco-peat