Senin, 10 Oktober 2011

Peningkatan Pendapatan petani melalui pengembangan klastering AgroIndustri Singkong

Singkong atau ketela pohon adalah komoditas internasional, produk-produk berbasis singkong telah diperdagangkan di dunia internasional. Dan singkong memiliki kelebihan multifungsi antara lain dapat dipergunakan sebagai bahan pangan, pakan ternak, energi, plastik organik, parmasi, kertas, industri lainnya.

Di Indonesia budidaya singkong relatif mudah dan banyak dilakukan oleh para petani, karena tanaman singkong dapat tumbuh disemua tipe tanah (dataran tinggi, dataran rendah) dan tanaman singkong tidak banyak penyakitnya.

Singkong dan produk-produk berbahan baku singkong sangat dikenal masyarakat luas dan telah menghidupi keluarga petani dalam jumlah besar. Singkong sebagai bahan baku pangan non beras dan non gandum adalah salah satu komoditas penting pendukung diversifikasi pangan.

Dalam menghadapi krisis pangan dan energi, serta mendukung program ‘Feed Indonesia-Feed The World’, Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) telah membuat beberapa program kerja, antara lain dengan proyek ’Peningkatan Pendapatan petani melalui pengembangan klastering Industri Singkong’ hal ini disampaikan oleh Ketua MSI H. Suharyo Husen dan DR. Marwah Daud Ibrahim pada acara Rountable singkong dan aneka tepung, diskusi Masyarakat Singkong Indonesia bersama KADIN Indonesia di Jakarta (8/7).

Klastering Agroindustri Singkong sasarannya adalah Petani, Buruh tani, Pemuda/pemudi tani dengan target pendapatan Rp 5 juta s/d Rp 15 juta per bulan, menggunakan varietas singkong Darul Hidayah dan Mangu Super yang produktivitasnya diatas 100 ton/hektar

Lahan yang digunakan untuk 1 kluster adalah 300 Ha, terdiri dari 120 KK, 1 Keluarga petani menggarap 2,5 Ha. Dan di setiap kulster dibangun pabrik industri pengolahan singkong, antara lain pabrik mocaf, tapioka dan lain-lain.

Saat ini Masyarakat Singkong Indonesia sudah terbentuk di 10 Propinsi Dengan melaksanakan proyek klustering Agroindustri singkong, target MSI tahun 2015 adalah:
1. Petani tidak menjual singkong segar lagi
2. Petani menjual produk olahan singkong (seperti Mocaf)
3. Tidak ada lagi pertanyaan ” Berapa harga singkong?’ yang ada ”berapa harga chips, mocaf, tapioka ?
(Rhp-MSI)

1 komentar: