Tampilkan postingan dengan label news. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label news. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Mei 2013

Investigating molecular determinants for abiotic stress resistance in cassava – a focus on post-harvest physiological deterioration

Project leader : Wilhelm Gruissem, Plant Biotechnology Lab
Research fellow : Ima Mulyama ZAINUDDIN
Collaborators : Herve Vanderschuren, ETH Zurich, Switzerland; Enny Sudarmonowati, Research Center for Biotechnology - LIPI
Duration : August 2011 – August 2014

Cassava is the staple food of nearly one billion people in 105 countries and the fourth most important crop in the developing world. In Indonesia, cassava is consumed as an alternative food to rice and used as animal feed because of its relative cheaper price. Indonesian cassava production is supposed to meet domestic industry and overseas demand. Although large areas are suitable to grow cassava and a higher price is offered in recent years, cassava production in Indonesia can only meet 5% of the demand (according to Indonesian Cassava Society (ICS) records).

Despite its demonstrated potential, several important constraints limit cassava production. One of the major limitations in cassava production is the post-harvest physiological deterioration (PPD), which renders the roots unpalatable and unmarketable within 24-72 hours depending on the genotypes and environmental conditions. PPD is characterised by a blue-black streaking of the vascular tissues. It forces farmers to sell fresh cassava roots or to process them rapidly after harvest as root deterioration is leading to price reduction and, eventually, to its use as feedstock. Losses due to PPD are increasing when the production site is distant from the market site. 

The project aims at characterising the natural PPD tolerance in selected cassava accessions available at the Indonesian Institute of Sciences (LIPI) in Cibinong, Indonesia. During the first year of the project, the best performing accessions will be identified using standardised PPD assessment protocols that will be established at LIPI. Selected genotypes with delayed PPD will be tested in collaboration with a local small and medium-sized enterprise as part of LIPI activities on deployment of improved cassava accessions. This approach permits to have an immediate impact for Indonesian cassava growers and industries. In addition, we will use a subset of 20 accessions contrasting for PPD score for enzymatic assays and secondary metabolites measurements. During the second and third year of the project, four contrasting genotypes will be selected for label-free proteomics studies at the ETH Zurich in collaboration with the Functional Genomics Center Zurich. We will perform correlation analysis between proteome modulation and PPD tolerance in order to decipher new markers involved in PPD tolerance. 

Field evaluation of cassava accessions allows for generating an immediate output for Indonesian cassava production. Furthermore, the project builds on the use of cutting edge technologies to investigate molecular determinants for PPD tolerance. Development and implementation of molecular techniques will be particularly instrumental in improving cassava in Indonesia.

source: http://www.northsouth.ethz.ch/programmes/sawiris/sawiris_5

Singkong Transgenik untuk Lahan Kering


LIPI Teliti Singkong Transgenik untuk Lahan Kering.

JAKARTA--MI: Dalam menyiasati perubahan iklim yang lebih kering di masa depan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia sudah mulai melakukan sejumlah penelitian rekayasa genetika tanaman pangan. Salah satunya adalah pada tanaman ubi kayu atau mannihot esculenta.

"Misalnya gen penyandi phytoenesynthase (Psy) yang terlibat dalam biosintesis beta karoten pada ubi kayu sudah diidentifikasi dan sudah di-sequence untuk konfirmasinya," kata peneliti pada puslit Biotekologi LIPI Prof Dr. Enny Sudarmonowati yang baru saja dikukuhkan sebagai profesor riset oleh LIPI di Jakarta, Senin (24/5).

Gen yang diperoleh ini akan diintroduksi kembali ke tanaman ubi kayu melalui transformasi genetik yang tekniknya telah dikuasai sehingga diharapkan tidak lagi mengalami kesulitan di masa datang, ujar Enny. Beta karoten yang diduga berkorelasi dengan ketahanan terhadap kekeringan, ujarnya, sudah bisa ditingkatkan dalam penelitian tersebut.

Upaya menghasilkan ubi kayu yang mengandung kadar amilosa lebih tinggi juga sedang dilakukan, ujar Enny, bahkan upaya untuk menghasilkan ubi kayu dengan amilosa lebih rendah sudah sampai di lapang uji terbatas hingga generasi kelima dan merupakan riset ubi kayu transgenik pertama di dunia untuk varietas Indonesia. Amilosa merupakan komponen pati selain amilopektin yang komposisinya secara alami adalah 20 persen untuk amilosa dan 80 persen untuk amilopektin.

"Amilosa jika dikurangi persentasenya akan semakin baik bagi pengolahan pada industri kertas dan tekstil karena pengolahannya menjadi lebih mudah. Di LIPI sudah terbukti kandungan amilosanya bisa dikurangi jadi hanya dua hingga tiga persen dari yang alaminya 20 persen dengan cara transgenik ini," katanya.

Sedangkan kadar amilosa tinggi (amilopektin rendah) diperlukan untuk industri pangan, khususnya makanan bagi orang yang memiliki masalah dengan pencernaan dan untuk obat-obatan pada industri farmasi, tambahnya.

Penelitian bioteknologi untuk pasca panen ubi kayu menurut dia juga sudah dilakukan, seperti untuk meningkatkan masa simpannya setelah panen dari lima hari ditingkatkan menjadi 12 hari. Selain itu biofortifikasi (menambahkan zat gizi pada tanaman) juga sudah dilakukan terhadap singkong ini seperti memasukkan zat besi dan seng, tambah Enny.(Ant/pj/OL-04)


Sumber : Media Indonesia

Senin, 04 Maret 2013

Perlu Dukungan Pembiayaan Dorong Usaha Singkong


[JAKARTA] Pemerintah, lembaga perbankan, dan lembaga pembiayaan non-bank harus meningkatkan komitmen dan merealisasikan dukungan pembiayaan pada usaha budi daya dan pengolahan singkong. Para petani umumnya kurang memiliki modal kerja dan sulit mengembangkan produk olahan singkong. Padahal, singkong dapat diolah menjadi sejumlah produk strategis, bisa meningkatkan pendapatan para petani, dan dibutuhkan banyak orang sebagai sumber pangan alternatif. Demikian benang merah dari sarasehan Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) dan perayaan ulang tahun ke-3 MSI di Bogor, Jawa Barat, Kamis (28/2). 

Dalam kesempatan itu juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara MSI dengan Induk Koperasi Purnawirawan dan Warakawuri TNI-Polri (Inkoppabri) dan Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI). Hadir juga sejumlah perwakilan petani singkong, pelaku usaha, para pakar teknologi dan mekanisasi pertanian, serta perwakilan dari beberapa MSI daerah. Suharyo mengatakan, sebagaimana kendal pertanian selama ini, pembiayaan dan modal kerja menjadi salah satu persoalan dalam usaha singkong. Kondisi tersebut menyebabkan singkong hanya menjadi komoditas ‘selingan’ dan sekadar memenuhi kebutuhan yang terbatas. Padahal, potensi sumber dana untuk membantu pembiayaan pertanian, termasuk usaha budidaya dan singkong olahan, cukup banyak. Baik dana pemerintah, pihak swasta, perbankan, maupun lembaga keuangan nonbank.

“Untuk itu, kehadiran MSI diharapkan menjadi jembatan dalam membantu petani hingga industri pengolahan dalam meningkatkan usaha singkong. Sejak didirikan tiga tahun lalu, MSI masih konsisten dengan upaya meningkatkan pendapatan petani singkong dengan meningkatkan nilai tambah olahan,” kata Suharyo. 
Sejak didirikan, MSI terus menyuarakan peningkatan pendapatan petani melalui Gerakan Nasional Singkong Sejahtera Bersama. Model tersebut dengan membangun klaster pengembangan singkong dalam satu kawasan yang menghimpun ratusan petani. Untuk itu, kata Suharyo, dukungan lembaga pembiayaan sangat penting dalam mengoptimalkan konsep tersebut. Dengan demikian singkong tidak lagi diproduksi dan dikonsumsi dalam bentuk segar, tetapi diolah dalam berbagai bentuk untuk memenuhi kebutuhan pangan alternatif, industri, kosmetik, plastik, hingga pemenuhan energi dunia. 

Harapan atas dukungan lembaga pembiayaan juga disampaikan para pengurus MSI Jawa Barat, MSI Sulawesi Selatan, dan MSI Nusa Tenggara Timur (NTT). Produksi singkong di daerah-daerah belum banyak diolah dan diperlukan dukungan investasi dalam skala kecil, menengah, dan besar, agar bisa meningkatkan nilai tambah bagi para petani. 
“Komoditas singkong ini masih dinilai kurang ekonomis sehingga perlu terobosan yang bisa menyadarkan para petani. Untuk itu, kami mendukung kampanye MSI pusat agar singkong juga dijadikan pemerintah sebagai komoditas strategis seperti padi dan jagung,” kata Ketua MSI Sulawesi Selatan Syafruddin Nompe. 

Selain pembiayaan, mekanisasi juga menjadi salah satu kendala dalam mendongkrak produksi singkong. Untuk itu, diperlukan dukungan peralatan dan mesin dalam membantu budi daya dan pengolahan singkong. Menurut Kartono yang juga Wakil Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Alat dan Mesin Pertanian Indonesia (Alsintani), mekanisasi sangat diperlukan dalam produksi dan pengolahan singkong karena minimnya tenaga kerja pertanian dan praktik petani singkong yang masih tradisional. “Jika tidak menggunakan alat dan mesin pertanian maka sulit meningkatkan hasil produksi dan mengoptimalkan olahan singkong,” katanya. [H-12)
Sumber: Suara Pembaruan


Selasa, 05 Februari 2013

2nd Starch World 2013


2nd Starch World 2013
21-23 Jan, 2013 - Ho Chi Minh City
Mövenpick Hotel Saigon

Ho Chi Minh City,Vietnam - CMT's first Cassava Starch World (tinh bột sắn) was launched in February 2012 and established itself as the region's pioneer starch market event connecting the most important global players and stakeholders with Asian opportunities and capital.

In its 2nd year, and renamed Starch World (tinh bột) with 200+ participants and will continue to offer the most authoritative agenda and targeted networking to business with the industry and investment community in Asia

Profile of Past Attendees

2nd Starch World 2013 summit, organized by Centre for Management Technology, explores the present market and trade dynamics in the global starch based derivative markets including possible value addition modalities.

Starch World 2013 HIGHLIGHTS: Outlook for Cassava/Tapioca, Sago, Potato Starch and how much can they replace the under supply corn/wheat starch market, Developments in high yielding cassava varieties and Value added downstream applications.

Starch World 2013
Speaker Profile from Indonesia:

Mr. Suharyo Husen
Suharyo Husen is a Graduate in Economics /Marketing Management and a registered Professional Business Administration in USA - Northern California Global University 2000. . He is an Agribusiness Development Expert attached to The Indonesian Chamber of Commerce and Industry. He has created a model of agribusinees development to increase the income of the cassava farmers, This initiative is called " An Integrated Cassava Agro-industry Cluster Development ". He has twenty-five years experience in the field of International negotiation for food and agriculture cooperations among the FAO and IFAD member Countries as well as ASEAN and APEC member Countries.

Mr. Suharyo Husen, Chairman
Indonesian Cassava Society (ICS) Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) -
'Integrated Cassava Base Starch Industry Cluster Development in Indonesia'
Day 1 [Mon 21, January], at 11:20 AM

And Mr. Martin Todd, Managing Director of LMC International Ltd, sharing his views on cassava starch – its role, major producers, competitiveness as well as price dynamics and its impacts on downstream applications. The summit also analyzes prospects and outlook for Myanmar, Vietnam, Cambodia, Indonesia, Australia and India.

Indonesian Cassava Society


Mr. Suharyo Husen





Source:
- www.cmtevents.com
- Foto: MSI Kaltim

Jumat, 01 Februari 2013

Temu pakar di gelar MSI mendukung GERNAS SINGKONG


Bogor, Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) mengundang para pakar pertanian, pakar industri mocaf, industri tapioca, para pengusaha industry singkong untuk berdialog dalam acara temu pakar (Tapioka dan Mocaf) dalam Rangka memperkuat GERNAS ‘SSB’ untuk mencapai Misi dan Visi Masyarakat Singkong Indonesia 2013-2014. Acara tersebut diadakan MSI di kantor pusat nya di Tapos, Ciawi Bogor (30/1).


Dalam acara tersebut, yang hadir diantaranya adalah prof Win Nugroho, DR Thamrin Chaniago, ir. Kartono, DR. Ir. Soemitro Arintadisastra pakar penyuluhan dan pupuk cair (poca), Elfi Ramli pakar Coco peat sebagai media tanam, ibu Tukiyem mewakili ibu Tiara dan Samarinda, Kalimantan petani sukses yang telah berhasil dalam budidaya singkong unggul (F1) dengan media tanam coco peat.

Selain itu undangan yang hadir adalah Ketua Umum Induk Koperasi ABRI (INKOPABRI), Marskal Madya (U) Tamtama,  yang menyatakan siap mendukung dan membantu MSI mengenai kebutuhan masalah lahan dan keamanan lahan masyarakat singkong Indonesia.

Temu Pakar MSI-  Ketua INKOPABRI Marskal Madya (U) Tamtama,

Acara temu pakar singkong ini di buka oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional MSI, H. Suharyo Husen BSC,SE.MBA, dalam sambutannya disampaikan maksud dan tujuan temu pakar ini adalah untuk mendukung GERNAS SSB MSI 2013 – 2014. Dialog terbuka dibagi menjadi empat kelompok dengan topic yang berbeda antaralain, masalah budidaya, kelembagaan dan pemasaran, industry mocaf, industry tapioca. 

Temu pakar MSI - Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI)

Diskusi berjalan seru, santai namun serius dan kekeluargaan, pada penghujung diadakan rapat pleno untuk menyimpulkan hasil diskusi dan rencana kegiatannya.


Tentang masalah pengolahan mocaf, hasil diskusi yang disimpulkan oleh Ir. Susilohadi adalah,  Fokus mocaf adalah pada Rekayasa Dryer yang sesuai untuk kelompok tani 20 orang/kelompok,  akan di tempatkan mesin-mesin pengolah Mocaf di lahan MSI Sukabumi yang terdiri dari mesin perajang, mesin peniris, mesin pengering dan mesin penepung mocaf. Untuk mengolah singkong di lahan tersebut, yang luas nya mencapai 700 Ha.
Temu Pakar MSI- Fokus Mocaf pada Rekayasa Dryer

Masalah pengembangan budidaya singkong, di simpulkan oleh Sutrisno, akan diadakan uji coba oleh MSI mengunakan media tanam Coco peat + Pupuk+ Nutrisi di lahan yang telah disediakan oleh MSI di Lido Sukabumi. Dan terkait hal tersebut telah di buat MOU dengan  Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI) terkait suplai coco peat.  Dan MOU dengan INKOPABRI terkait kerjasama lahan milik nya yang tersebar di seluruh daerah militer (Kodam). dan penandatangan MOU tersebut  akan dilaksanakan pada akhir Februari 2013.

Temu Pakar MSI- Budidaya Singkong dengan Media tanam Cocopeat

Sedangkan masalah kelembagaan, pemasaran dan permodalan, disimpulkan oleh Yoyok Wastoyo, akan di bentuk koperasi di tingkat nasional,dan daerah, propinsi dan kabupaten. Dan untuk kerjasama MSI dengan perusahaan besar akan menggunakan PT. AKPI Maju Bersama yang saham nya dimiliki oleh koperasi anggota MSI. (RHp)




Selasa, 29 Januari 2013

Singkong dan Sabut Kelapa

Ketua Umum Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI), Efli Ramli Elfi, menyambut baik tawaran kerjasama Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) untuk menggenjot produksi singkong demi mengurangi ketergantungan pada impor gandum.

Ini menyusul sukses ujicoba penanaman singkong di lahan tandus dengan aplikasi serbuk sabut kelapa (coco peat) yang menghasilkan singkong sebanyak 500 sampai 800 ton per hektar.

Menurut Efli Ramli Elfi, " Selain dapat meningkatkan produktivitas lahan, kata dia, penggunaan aplikasi serbuk sabut kelapa pada tanaman singkong juga memudahkan proses panen karena tanah yang mengikat batang singkong dan umbi selalu dalam kondisi gembur dan lembab. "

Ketua Umum MSI, Suharyo Husen, mengapresiasi inovasi AISKI yang berhasil meningkatkan produktivitas tanaman singkong dengan aplikasi serbuk sabut kelapa.

Suharyo yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komite Tetap Industri Derivatif Pertanian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) ini, mengatakan acara temu pakar, tanggal 30 Januari 2013, yang rencananya digelar di Tapos, Ciawi, Bogor, Jawa Barat tersebut, akan dihadiri sekitar 60 pakar singkong dan ahli pertanian Indonesia.

"Sekitar 60 pakar telah diundang untuk bicara tentang produktivitas, tapioka, mocaf (modified cassava flour) dan pemasaran. MSI siap bekerja sama dengan AISKI untuk mensejahterakan petani kelapa dan petani singkong Indonesia," kata Suharyo.

Sebagaimana diketahui, untuk dapat berproduksi optimal, tanaman singkong membutuhkan curah hujan 150-200 mm pada umur 1-3 bulan, 250-300 mm pada umur 4-7 bulan, dan 100-150 mm pada fase menjelang dan saat panen.

Namun, dengan kemampuan serbuk sabut kelapa yang dapat menyerap dan menyimpan air 300 persen lebih dari kemampuan lahan, menjadikan tanaman singkong dapat tumbuh survive di musim kemarau.

Serbuk sabut kelapa memiliki kandungan trichoderma molds, sejenis enzim dari jamur yang dapat mengurangi penyakit dalam tanah, menjaga tanah tetap gembur, subur dan memudahkan umbi pada tanaman singkong tumbuh dengan cepat, besar, dan panjang.

Selain itu, ia juga memiliki pori-pori yang memudahkan terjadinya pertukaran udara, dan masuknya sinar matahari. Di dalam coco peat juga terkandung unsur-unsur hara dari alam yang sangat dibutuhkan tanaman, berupa kalsium (Ca), magnesium (Mg), natrium (Na), nitrogen (N), fospor (P), dan kalium (K).

Referensi
http://www.suarapembaruan.com/home/aiski-genjot-produksi-singkong-kurangi-impor-gandum/29843
http://www.tribunnews.com/2013/01/14/tiara-panen-singkong-800-ton-per-hektar-berkat-coco-peat

Jumat, 28 Desember 2012

Kliping Berita MSI Kendal

PENGURUS MASYARAKAT SINGKONG INDONESIA CABANG KENDAL DIKUKUHKAN 

Written by Solikhah
 

 KENDAL - Masyarakat Singkong Indonesia ( MSI ) merupakan sebuah organisasi yang bergerak di bidang pangan yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat atau profesi yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan bersama melalui penanaman dan pengembangan tanaman singkong. Agar dapat segera bekerja dan berperan aktif dalam memajukan perekonomian masyarakat lewat tanaman singkong, pengurus MSI Kabupaten Kendal dikukuhkan kepengurusannya oleh Bupati Kendal, dr. Widya Kandi Susanti, MM, CD di pendopo Pemkab, Rabu ( 19 / 12 ).


Kepengurusan yang dilantik diketuai oleh Kepala Kantor Pertanahan Kendal, Jaya, SH, MH dengan wakilnya Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan Kendal, Ir. Sri Purwati. Pengurus lainnya terdiri darai para pejabat di lingkungan Pemkab Kendal. Bupati Kendal dan ketua DPRD, kasiyani S.Sos bertindak sebagai penasihat ditambah dengan pengurus MSI Jateng dan Pusat. Pembina antara lain Kadin Perdagangan, Kadin Bina Marga, Kadin Koperasi dan UMKM serta Dekan Fakultas Pertanahan UNDIP. Saat ini MSI sudah dibentuk di 25 provinsil dan 75 kabupaten di Indonesia termasuk Kendal.

Dalam sambutannya, Jaya, SH, MH mengungkapkan, tanaman singkong yang di masa lalu sering diabaikan dan dianggap sebagai tanaman ang kurang bermanfaat, sekarang menjadi tanaman yang sangat penting untuk dikembangkan. Hal tersebut menurut Jaya, singkong ternyata sangat kaya dengan kandungan bahan-bahan yang bermanfaat dan potensial untuk berbagai keperluan di antaranya untuk makanan, kosmetik, obat-obatan dan bahan bakar kendaraan.
Pasar singkong sangat terbuka lebar, di Kota Semarang saja, lanjutnya, kebutuhan singkong sebanyak 50 ton per hari. Indonesia sendiri merupakan negara ketiga penghasil singkong terbesar ketiga di dunia setelah Nigeria dan Brasil.

Sayangnya, menurut Ketua MSI Pusat, Suharjo Husein, SE, MBE, untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri saja, Indonesia masih mengimpor dua juta ton singkong per bulan.
Pertumbuhan jumlah produksi singkong di Indonesia, terang Suharjo, diprediksi akan meningkat pada 2013 sebanyak 1,2 juta ton singkong ( tepung singkong ). Pada 2014 produksi nasional tepung singkong menjadi 2,4 juta ton, lalu bertambah menjadi 4,8 juta ton dan pada 2016 bertambah lagi sebanyak 9,6 juta ton. Pada tahun 2016 itulah Indonesia akan mengambil alih posisi sebagai negara pengekspor terbesar singkong di dunia dan tidak lagi mengimpor.
Sementara, Bupati Widya mengharapkan agar tanaman singkong dapat menolong masyarakat Kabupaten Kendal agar meningkat perekonomiannya. Rencananya, bupati akan mengeluarkan Perbub ( Peraturan Bupati ) agar 500 M2 samapi 1 Ha tanah bengkok di Kabupaten Kendal bisa ditanami Singkong. ( Mass Media / HEDJ )

Kliping berita, Source : kendalkab.go.id

Sabtu, 15 Desember 2012

Pelantikan Pengurus Masyarakat Singkong Indonesia Propinsi Jawa Barat

Sumedang, MSI-JABAR.  Pameran, Seminar Dan Pelantikan Pengurus Masyarakat Singkong Indonesia (MSI)  Propinsi Jawa Barat, Kabupaten dan Kota Se-Jawa Barat, telah diadakan di Tanjungsari, Sumedang 8 Desember 2012.


Ketua MSI Pusat  H. Suharyo Husen BSc, SE, MBA mrlantik  Ketua MSI Jabar Drs R.Hendawidjaja

Foto bersama Ketua Drs. R. Hendawidjaja, Sekretaris Ir. Encep Sarifudin, Bendahara Totty Munawar,  para pengurus MSI Propinsi JABAR Periode 2011-2016

Seminar yang diadakan pada hari itu  bertema "POTENSI PENGEMBANGAN INDUSTRI LOKAL BERBASIS SINGKONG UNTUK MEMPERKUAT KETAHANAN PANGAN DAN ENERGI NASIONAL"


Dan didalam acara tersebut juga digelar pameran produk  industri lokal berbasis singkong, seperti Tepung asia, tepung tapioka,  Modified Cassava Flour(Mocaf) Cassava Pellet, Cassava Chips, Madu Nabati, Bioethanol  dan lain-lain

produk  industri lokal berbasis singkong

Madu Nabati, dan Bioethanol  yang dibuat dari singkong


Senin, 03 Desember 2012

Rakernas MSI 2012 Menetapkan H. Suharyo Husen Ketua Umum Menggantikan Marwah Daud Ibrahim

Bogor, MSI-News.  Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) yang diadakan tanggal 1 Desember 2012 di Pondok Ratna, Tapos Bogor dihadiri oleh sekitar 60 orang dari pengurus MSI Pusat, MSI Daerah,. MSI Propinsi : MSI Jawa Barat; MSI Kaltim; MSI Kalteng , MSI Aceh dan MSI Lampung; MSI Kabupaten : MSI Cianjur, MSI Sukabumi, MSI Majalengka, MSI Subang, MSI Kutai Kertanegara, MSI Kutai Timur; MSI Bogor; 

RAKERNAS MASYARAKAT SINGKONG INDONESIA- 1-12-2012

Pejabat Kementerian Pertanian yang hadir adalah Direktur Jenderal Pertanian Tanaman Pangan, Direktur Aneka Umbi dan Aneka Kacang, dan Kabid. Aneka Umbi. Hadir pula beberapa pengusaha dari PT. Cassava Indonesia; PT. AKPI, PT Pupuk Indonesia; PT. Simax Pangan. PT Indofood Sukses Makmur/ Bogasari dan Sekjen Masyarakat Standardisasi Indonesia (MASTAN) serta undangan termasuk petani singkong dari Cianjur, Bogor dan Sukabumi, demikian info dari Ketua Panitia Yoyok Wastoyo.

Rakernas dibuka secara resmi oleh, Direktur Jenderal Pertanian Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Ir. Anggoro. Didalam rapat tersebut peserta mengusulkan agar segera diadakan perombakan dan perbaikan kepengurusan MSI Pusat.  Ini dipelopori oleh Ketua dan Sekjen MSI Jawa Barat yang secara aklamasi didukung oleh semua yang hadir.

Banyak dari yang hadir langsung menyebut nama H. Suharyo Husen untuk menjadi Ketua Umum MSI Pusat menggantikan Marwah Daud Ibrahim. Tapi keputusan akhir tetap ada pada Pengurus MSI Pusat yang hadir. Akhirnya Pengurus MSI Pusat sepakat menerima usul dari peserta Rakernas dan memutususkan membentuk TIM FORMATUR 5 ORANG yaitu H. Suharyo Husen (Ketua formatur), Prof. Moh. Winugroho (anggota), Dr. Thamrin D. Chaniago (anggota), Yoyok Wastoyo (anggota) dan Ir. Susilohadi (anggota).

Selesai Rakernas, Tim Formatur 5 orang dengan mengambil tempat di Ruang Kantor MSI Pusat langsung mengadakan rapat Formatur dan dalam waktu kurang dari setengah jam Pengurus MSI Pusat Periode 2012-2015 ( Februari ) telah dapat menyusun Susunan Dewan Pengurus MSI Pusat yang baru. 

WARKSHOP
Rakernas Masyarakat Singkong Indonesia didahului oleh Workshop tentang GERNAS SSB disampaikan oleh H. Suharyo Husen, Ketua MSI PUSAT, kemudian Ir. Encep Saefuddun , menyampaikan presentasi tentang industri Modified Cassava Flour (MOCAF), dan Sutrisno (Pengusaha) menyampaikan presentasi tentang Industri Pupuk Organiak untuk tanaman singkong.
Diskusi berjalan lancar, seputar pengadaan bahan baku singkong untuk industri mocaf masih sulit karena bersaing dengan pembeli yang kuat seperti Indofood untuk Kripik, dari Pabrik Tapioka di Lampung yang berani beli singkong relatif mahal antara Rp 1.200-Rp1.800/Kg. Tentang Permodalan masih sulit untuk memulai pembangunan Klaster (MSI Cirebon). 

MSI Kalteng menginformasikan bahwa lahan siap untuk tanam singkong ada 30.000 Ha milik para petani anggota MSI Kalteng dan minta diperhatikan untuk mendapat bantuan modal dari CSR BUMN dan dari Luar Negeri kalau ada, misalnya dari Korea Selatan dan Amerika; 

MSI Kaltim menginformasikan tentang telah mulai berjalannya pembangunan 1 (satu) klaster 300 Ha di Kutai Kertanegara dan menginformasikan telah mulainya beroperasi pabrik Tapioka di Samarinda, dan menginformasikan telah terbentuknya susunan Masyarakat Singkong Indonesia Kaltim yang baru dengan Ketua ISMAN SALADIN, menggantikan H. Hasan Basri(Alm), Ketua MSI Kaltim sebelumnya yang baru saja meninggal dunia dan diberi gelar oleh mereka sebagai Bapak Singkong Kaltim’(SH/Rhp)


Adapun Susunan Dewan Pengurus MSI Pusat yang baru.  adalah sebagai berikut:


SUSUNAN DEWAN PENGURUS MSI PUSAT PERIODE 2012- 2015 (PEBUARI)
NO. 02/MSI-PUSAT/XII/2012

SUSUNAN PENGURUS MASYARAKAT SINGKONG INDONESIA ( MSI ) BERDASARKAN RAPAT KERJA MSI 2012 PADA TANGGAL 1 DESEMBER 2012 BERTEMPAT DI KANTOR MSI PUSAT JL. RAYA TAPOS NO.10, RT 01/ RW 02, KP. CUKANGGALEUH 1, DS. JAMBULUWUK, KECAMATAN CIAWI, KABUPATEN BOGOR 16720 , JAWA BARAT.

KETUA UMUM : H. SUHARYO HUSEN, BSC, SE, MBA.

KETUA : PROF.DR.IR.MOHAMMAD WINUGROHO, MSC.
KETUA ; DR. DRH. THAMRIN S. CHANIAGO MSC.

SEKRETARIS JENDERAL : YOYOK WASTOYO BA.
SEKRETARIS : IR. H. MIFTAH MM.

BENDAHARA UMUM : SUTRISNO HADI
BENDAHARA : NONI SOPINA

KEPALA BIDANG LITBANG : IR. SUSILOHADI , HP: 0817780551
KEPALA BIDANG IT DAN KOMUNIKASI : IR. RHINO HAMUQ PRANAPATI.
KEPALA BIDANG PERIZINAN DAN PROTOKOL : DRS. SUGIYANTO

SEKRETARIAT :
AGUS SETIAWAN , IT
HARIS BISRI , STAF SEKRETARIAT
WAWAN, PEMBANTU UMUM

PENGAWAS :
HJ. RATNA SUNINGSIH.
JAYA JUMANTARA.

Sabtu, 17 November 2012

Rakernas Masyarakat Singkong Indonesia 2012

Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS) Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) tahun 2012 akan diselenggarakan pada hari Sabtu, tanggal 1 Desember 2012, Jam 11.00 – 16.00 bertempat di Kantor Pusat MSI, Jl. Raya Tapos no.10, Cukanggaleuh 1, RT 01/RW 02,  Desa Jambuluwuk, Kec. Ciawi, Kab. Bogor

Rapat Kerja Nasional Masyarakat Singkong Indonesia adalah rapat/ musyawarah tingkat nasional  yang di selenggarakan oleh Dewan Pengurus MSI, sekurang-kurangnya 1(satu) tahun sekali.

Rakernas MSI ini  akan dihadiri oleh Dewan Pengurus Masyarakat Singkong Indonesia, Dewan Penasehat, Badan Kelengkapan Organisasi dan yang akan bertindak sebagai pimpinan rapat adalah Ketua Umum/Ketua Masyarakat Singkong Indonesia.

Di dalam rapat ini akan diadakan evaluasi pelaksanaan program kerja Masyarakat Singkong Indonesia tahun 2012,  Dan menetapkan Program Kerja Masyarakat Singkong Indonesia tahun 2013, serta Merekomendasikan keputusan-keputusan yang perlu ditetapkan oleh Dewan Pengurus MSI dan lain-lainnya. (Rhp/MSI).


Rabu, 14 November 2012

Produk Unggulan Singkong hadir di PRUKAB Investment Day

Kementerian Pembangunan Daerah Tertingga (KPDT)    menyelenggarakan PRUKAB Investment Day dari tanggal 13 - 18 Nov 2012 di Museum Nasional, Jl. Medan Merdeka Barat 12 Jakarta.

Rangkaian acaranya terdiri dari Pameran,Temu Bisnis, Seminar, Pagelaran Budaya Seni, Wisata Kuliner dan Lomba Paduan Suara tingkat SMP-SMA.

Pembuakaan dan Sambutan oleh Menteri PDT Helmy Faishal Zaini

 Sebanyak 183 Kabupaten daerah tertinggal memamerkan produknya, tak ketinggalan produk unggulan dan aneka makanan yang terbuat dari singkong dan sorgum di pamerkan  pada Stand Masyarakat singkong Indonesia.

Stand Masyarakat Singkong Indonesia - Prukab


 Pameran Produk Unggulan Kabupaten yang salah satunya adalah produk-produk  singkong merupakan suatu trobosan untuk meningkatkan pendapatan daerah tertinggal antara lain: gaplek, tepung singkong, tapioka, Mocaf (modified Cassava Flour) dan lain-lain.

Ketua MSI.  Suharyo Husen  dan Produk unggulan dari singkong


PRUKAB Investment Day Diselenggarakan dalam rangka mendukung dan mengenalkan Prukab kepada khalayak dan menarik dunia usaha untuk invetasi di Daerah Tertinggal

Aneka makanan (Cassava Cake)  yang terbuat dari singkong MSI-Prukab


Kementrian PDT RI menghimbau "Bangkitkan Semangat Cinta Tanah Air dan bangsa dimulai dari membangun Daerah!"..

Dan pada talk show  yang diadakan dalam acara tersebut   telah dipromosikan GERNAS SINGKONG SEJAHTERA BERSAMA (GERNAS SSB) UNTUK MENSEJAHTERAKAN PETANI. Oleh Ketua Masyarakat Singkong Indonesia (MSI)  H. Suharyo Husen B.Sc, SE, MBA.




Datang dan kunjungingilah Kabupaten serta jangan lupa mampir ke Stand Masyarakat Singkong Indonesia. (Rhp/MSI).

Kamis, 08 Maret 2012

Prospek singkong sebagai bahan baku plastik ramah lingkungan

Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) turut mendukung program green marketing demi tercapainya kelestarian lingkungan, dengan melakukan kerjasama saling menguntungkan dengan beberapa perusahaan plastic yang mengembangkan aplikasi dan pasar dari kantong/kemasan plastik ramah lingkungan. demikian disampaikan oleh H. Suharyo Husen BSC,SE.MBA Ketua Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) pada kunjungannya ke salah satu produsen bahan plastik yaitu PT Inter Aneka Lestari Kimia bersama team ahli MSI (8/12).

Perusahaan yang memproduksi plastik alternative yang full bio-degradable (cepat terurai) dengan merek Enviplast ini mempergunakan tepung tapioka atau singkong dan glycerin sebagai bahan bakunya.

Sedangkan plastik biasa (polyethylene / polypropylene) yang digunakan sebagai kantong belanja merupakan penyumbang sampah plastik terbesar terhadap lingkungan. Plastik konvensional ini terbuat dari hasil olahan minyak bumi, yang merupakan sumber alam yang tidak bisa diperbaharui, dan persediaannya di perut bumi semakin tipis. Terlebih lagi plastik konvensional ini baru akan terurai dalam waktu ratusan tahun, bahkan hingga ribuan tahun, yang mengakibatkan kerusakan lingkungan, menyumbat saluran air sehingga mengakibatkan banjir, sungai dan laut menjadi sangat kotor, serta membahayakan kelangsungan hidup biota air yang tanpa sengaja memakan lembaran plastik ini.

Plastik alternatif tersebut terbuat dari bahan baku alami yang tersedia terus menerus di alam dan dapat diperbaharui. Bahan bakunya antara lain tepung pati dari singkong-tapioka, dan turunan minyak nabati(kelapa sawit).


Enviplast merupakan polimer biodegradable, yang dapat terurai di alam dengan bantuan mikroorganisme dan air. Hasil uraian Enviplast adalah karbondioksida (CO2), air (H2O) dan biomasa. Enviplast juga termasuk kelompok bahan compostable, yaitu dapat menjadi kompos di dalam tanah. Enviplast yang terurai di dalam tanah, akan menambah kemampuan tanah untuk mengikat air, sehingga meningkatkan daya serap air dari tanah. Selain oleh mikroorganisme, plastic ini juga dimakan oleh binatang seperti serangga, siput, serta hewan kecil lainnya, baik di darat maupun di air, tanpa menimbulkan akibat buruk seperti efek racun atau bahaya lainnya.

Berbeda dengan plastik konvensional, Enviplast sangat ramah lingkungan, yang bisa ditunjukkan bila Enviplast ada di dalam air akan melunak dan tenggelam, sehingga memudahkan terdegradasi dan dimakan oleh mikro/makro organisme, serta tidak menyumbat saluran pembuangan air. Enviplast juga tidak menghasilkan gas kimia berbahaya atau residu lelehan bila dibakar.

Permintaan pasar terhadap produk kemasan ramah lingkungan akan terus naik dari tahun ke tahun, mendorong pertumbuhan industri plastic dan industri singkong-tapioka (Rhp)

Rabu, 07 Maret 2012

Investor Hong Kong bangun pabrik pengolahan singkong di Indramayu

Oleh Hery Lazuardi

NUSA DUA, Bali: Nest Fortune Limited, perusahaan pengolahan singkong asal Hong Kong, menanamkan modal US$6 juta untuk membangun pabrik pengolahan singkong industri di Kabupaten Indramayu, Jabar.

Rencana investasi itu dituangkan dalam nota kesepahaman bersama yang ditandatangani oleh CEO Nest Fortune William Yeung dan Ketua Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) Marwah Daud Ibrahim.

Penandatanganan MoU disaksikan Menperin MS Hidayat dan wakil dari Pemkab Indramayu di sela-sela International Conference on Asean SMI's Cassava Products di Nusa Dua, Bali, hari ini.

Marwah mengatakan Nest Fortune siap menginvestasikan US$6 juta guna merealisasikan pabrik pengolahan singkong yang akan menghasilkan cip singkong (cassava strated) dan modified cassava flour (mocaf).

Adapun, Pemkab Indramayu yang akan menyediakan lahan seluas 6.000 hektare untuk lahan dan fasilitas produksi bagi perusahaan Hong Kong tersebut.

"Nest Fortune hanya salah satu dari sejumlah investor asing lokal yang berminat mengembangkan pengolahan singkong di beberapa daerah potensial," katanya seusai penandatanganan MoU.

Menurut Marwah, investor dari Korea Selatan berencana membangun pabrik etanol di Sulsel , dan satu investor asing lain akan membangun pabrik mocaf dan tapioka di Kutai Kertanegara, Kaltim.

"Ada juga investor dari Jepang dan China yang menjajaki investasi di beberapa daerah," ungkapnya.

Dirjen Industri Kecil Menengah Kemenperin Euis Saedah mengatakan investasi Nest Fortune di Indramayu akan menjadi proyek percontohan bagi pengembangan industri berbasis singkong di daerah lain.

"Saat ini ada delapan provinsi yang ingin mengembangkan industri berbasis singkong di daerahnya. Ini menjadi peluang, baik bagi investor lokal maupun asing," ujarnya. (tw)

Sumber: www.bisnis.com

Rabu, 29 Februari 2012

Masyarakat Singkong Bangun Pandeglang


PANDEGLANG (Pos Kota) – Potensi singkong sebagai salah satu produk unggulan pertanian di Kabupaten Pandeglang, Banten masih dinilai cukup bagus. Tercatat selama tahun 2011, realisasi produksinya mencapai 27.088,25 ton dari luas lahan 1.998 hektar. Sedangkan untuk tahun 2012, direncanakan sasaran luas tanam 2.522 hektar, dengan sasaran produksi mencapai 52.525,32 ton.

Demikiam disampaikan Bupati Pandeglang Erwan Kurtubi, dalam acara pembukaan Pameran Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) Kabupaten Pandeglang di Alun-alun Kota Pandeglang, Rabu (22/2).

Kata Erwan, Pandeglang sebagai sentra pertanian di Provinsi Banten, oleh karena itu dengan kehadiran MSI sebagai wadah bagi petani dan pelaku tanam singkong, sangat mendorong pengembangan singkong di Kabupaten Pandeglang khususnya.

Bupati Erwan berharap, dengan hadirnya MSI, dapat lebih mengefektifkan proses diversifikasi pangan berbahan singkong, seperti singkong yang diolah untuk berbagai bahan makanan dan energy, seperti tepung tapioka/casava, tepung fermentasi mocaff dan kebutuhan industri lainnya.

“Karena, dari sebuah singkong, juga bisa membantu peningkatan perekonomian masyarakat dan memandirikan serta mensejahterakan masyarakat. Pemerintah daerah sangat mendukung program MSI ke depan,” tambahnya.

Ditambahkannya, proses menanam singkong sangat mudah dan bisa dilakukan dimana dan kapan saja. Dengan lahan tanah yang tidak terlalu luas-pun, tambahnya, masyarakat sangat bisa menanam singkong serta diambil hasilnya untuk membantu mencukupi kebutuhan makanan sehari-hari.

“Bukan hanya kripik singkong, tapi juga jenis kue-kue lainnya, dengan bahan baku singkong,” ujarnya.

Kegiatan pameran ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) MSI yang ke-2, dengan mengambil tema “Gerakan Nasional Singkong Sejahtera Bersama”. Pameran ini dimeriahkan oleh lebih dari 20 stand pameran, memamerkan aneka ragam panganan singkong, serta stand-stand pendukung lainnya. Pameran MSI itu akan berlangsung dari tanggal 22-25 Februari 2012 mendatang.

Dalam acara pembukaan, hadir Kepala Dinas Pertanian Dan Peternakan (Distanak) Provinsi Banten Agus Tauchid, Wakil Bupati Pandeglang Heryani, Ketua MSI pusat Dr. Marwah, Ketua TP PKK Pandeglang Siti Erna Nurhayati, Para Kepala SKPD dan ratusan masyarakat singkong Indonesia. (haryono/b)

Sumber : poskotanews.com

PAMERAN MASYARAKAT SINGKONG INDONESIA


Dalam rangka memperingati Ulang Tahun yang ke-2, Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) menggelar Pameran Masyarakat Singkong Indonesia di Alun-alun Pandeglang, Rabu (22/02). Kegiatan ini mengambil tema “Gerakan Nasional Singkong Sejahtera Bersama” yang dimeriahkan lebih dari 20 stand pameran aneka ragam panganan singkong, serta stand-stand pendukung lainnya.

Sebagai informasi potensi singkong di Kabupaten Pandeglang cukup tinggi, ini terlihat pada tahun 2011 realisasi produksinya mencapai 27.088,25 Ton dengan realisasi panen mencapai 1.998 hektar dari realisasi luas tanam mencapai 2.377 hektar. Sedangkan untuk tahun 2012 direncanakan sasaran luas tanam 2.522 hektar dengan sasaran produksi mencapai 52.525,32 ton.

Dalam sambutannya Bupati Pandeglang Drs. H. Erwan Kurtubi, MM mengatakan Pandeglang sebagai sentra pertanian, kehadiran MSI sebagai wadah bagi petani dan pelaku singkong, sangat mendorong pengembangan singkong di Kabupaten Pandeglang khususnya. “Kehadiran MSI tersebut dapat lebih efektif dalam proses diversifikasi pangan bahan singkong, seperti singkong yang diolah untuk berbagai bahan makanan dan energi seperti tepung tapioka/casava, tepung fermentasi mocaff dan kebutuhan industri lainnya”, ungkapnya.

Hadir pada kesempatan tersebut Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten Drs. Agus Tauchid, Wakil Bupati Pandeglang Hj. Heryani, Ketua SMI Pusat Dr. Marwah, Ketua TP PKK Pandeglang Hj. Siti Erna Erwan, Para Kepala SKPD dan para Masyarakat Singkong Indonesia.
Post By : Heri, 14:59 Wib, 22-02-2012 (humas pdg)

Source: Pemerintah Kabupaten Pandegelang
Foto : Pameran Singkong 10, Bagian Humas Sekretariat Daerah Kabupaten Pandegelang


MSI Dorong Iklim‭ ‬Investasi Pertanian

PANDEGLANG,‭ ‬BP‭ ‬-‭ ‬Perayaan ulang tahun Masyarakat Singkong Indonesia‭ (‬MSI‭) ‬ke-2‭ ‬diselenggarakan di Kabupaten Pandeglang dan dipusatkan di alun-alun mulai‭ ‬22-29‭ ‬Februari mendatang.‭ ‬Rencananya,‭ ‬pameran‭ ‬akan diisi‭ ‬penampilan berbagai produk‭ ‬pertanian,‭ ‬terutama jenis singkong.

“‬Pembukaan pameran,‭ ‬dilakukan‭ ‬secara simbolis oleh Gubernur Banten,‭ ‬Ibu‭ ‬Ratu Atut Chosiyah disaksikan Bupati Pandeglang,‭ ‬Ketua MSI Banten,‭ ‬Ketua MSI Pusat,‭ ‬Ibu Marwah Daud Ibrahim dan sejumlah pejabat Pemkab Pandeglang,‭” ‬ujar Aap Aptadi,‭ ‬Ketua MSI Banten,‭ ‬Selasa‭ (‬21/2‭)‬.

Kata Aap,‭ ‬dalam ulang tahun ke‭ ‬2‭ ‬ini mengambil‭ ‬tema‭ ‘‬Gerakan Nasional Singkong Sejahtera Bersama‭’ ‬dan‭ ‬akan dimeriahkan berbagai acara seperti pameran,‭ ‬seminar,‭ ‬perlomba yang‭ ‬melibatkan‭ ‬masyarakat dan pelajar.

Aap Aptadi berharap,‭ ‬dengan‭ ‬peringatan‭ ‬hari ulang tahun MSI di Pandeglang dapat memberikan kontribusi positif bagi pemerintah.‭ ‬Menurutnya,‭ ‬hingga saat ini masyarakat petani belum begitu melirik potensi besar tentang manfaat tanaman singkong ini.‭

‬Meski,‭ ‬sebagian besar petani Banten mengenalinya.‭ ‬Masyarakat juga dipastikan mengenali‭ ‬berbagai bahan makanan‭ ‬yang berasal dari bahan baku singkong.‭ ‬Namun demikian,‭ ‬petani belum banyak yang berminat‭ ‬mengembangkan‭ ‬tanaman ini karena dinilai tidak ekonomis.

“‬Petani di Pandeglang masih menjadikan padi sebagai sumber pertanian utama,‭ ‬padahal singkong juga sangat‭ ‬berpeluang cukup besar dijadikan usaha utama.‭ ‬Maka itu saya berharap pemerintah bisa mendorong menyosialisasikan tamanan singkong‭ ‬ini‭ ‬kepada masyarakat,‭” ‬ujar Aap.

Selain itu,‭ ‬lanjut dia,‭ ‬peluang usaha pengembangan singkong jika dilakukan secara serius dapat meningkatkan pendapatan asli daerah‭ (‬PAD‭)‬.‭ ‬Sebab,‭ ‬akan banyak‭ ‬investor‭ ‬yang datang‭ ‬menanamkan modalnya untuk mengembangkan pertanian‭ ‬Pandeglang.

“‬Bentuk kerjasama dengan mengundang investor dirasa sangat tepat untuk mengembangkan pertanian singkong.‭ ‬Namun tetap petani jangan dijadikan buruh tetapi dijadikan mitra untuk mengembangkan investasi ini,‭” ‬ujarnya.

Menurut dia,‭ ‬peluang untuk mengembangkan pertanian singkong di Pandeglang masih sangat terbuka lebar.‭ ‬Yang dibutuhkan adalah‭ ‬peranserta pemerintah‭ ‬dalam‭ ‬mendorong masyarakat agar mau membudidayakan‭ ‬tanaman ubi ini.‭ ‬Di Pandeglang,‭ ‬lanjut Aap,‭ ‬tercatat sekitar‭ ‬47.000‭ ‬hektar lahan‭ ‬yang‭ ‬masih belum maksimal digarap‭ ‬petani.‭

‬Hal itu jelas merupakan pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk memanfaatkan secara maksimal segala potensi di Pandeglang.‭ “‬Dengan gelaran ulang tahun MSI ke‭ ‬2,‭ ‬saya harap bisa ikut medorong investor untuk menanamkan modal di sektor pertanian singkong,‭” ‬tandasnya.‭(‬ARI‭)

Sumber : Banten POS

Minggu, 19 Februari 2012

Banten Kembangkan Budidaya Singkong

Siapa tak kenal singkong? Tanaman ‘rakyat’ ini bisa dikatakan sangat digemari oleh masyarakat Indonesia. Bukan hanya umbinya yang memiliki rasa yang khas, namun daun singkong pun bisa disulap menjadi sayuran yang sangat nikmat. Tanaman singkong ternyata mempunyai nilai ekonomi yang tinggi bila dikelola dengan baik. Atas dasar itulah Masyarakat Singkong Indonesia dan PT Suara Rakyat Banten mengembangkan penanaman singkong hingga ribuan hektar.

Direktur Utama Suara Rakyat Banten Akhmad Jajuli mengatakan, program budidaya tanaman singkong tahun ini akan ditagret 3000 hektar yang di pusatkan di 4 Daerah yaitu Kabupaten Serang, Pandeglang, Lebak dan Kota Serang.

“Dari 3000 hektare lahan tersebut pihaknya menargetkan produksi singkong 172.000 ton per tahun,” ujar Akhmad Jajuli dalam sambutannya saat acara Launching Budidaya Tanaman Singkong 1000 Hektare di Desa Sukawana Kecamatan Curug Kota Serang, Kamis (16/02/2012).

Menurutnya, penanaman singkong ini juga sekaligus untuk pememanfaatkan lahan tidur di berbagai wilayah di Banten, seperti di Kabupaten Pandeglang terdapat lahan yang tidak tergarap sebanyak 47.000 hektar.

“Berdasarkan aspek ekonomis akan tingginya nilai jual singkong, maka kami mengajak dan mensosialisasikan budidaya tanaman singkong ini,” kata Jajuli.

Hal senada dikatakan Ketua Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) Provinsi Banten Aap Aptadi. Menurutnya, singkong bisa menjadi produk unggulan ke dua setelah padi. Proses penanaman singkong cukup mudah dan tidak repot terserang hama penyakit. Selain itu, bisnis singkong ini menguntungkan bagi petani.

Ia mencontohkan, dalam satu hektare lahan bisa ditanami 7.500 pohon. Satu pohon singkong menghasilkan 10 kilogram. Bila satu kilogram dihargai Rp500, maka dari satu pohon nilainya Rp5.000. Dari 7.500 pohon menghasilkan uang Rp37,5 juta. Padahal modal plus biaya produksi sekitar Rp5 juta saja.

“Untuk itu, kami akan terus mendorong masyarakat untuk membudidayakan singkong, dan MSI juga siap menampung produksi singkong dari masyarakat, berapa pun jumlahnya,” katanya.

Sementara, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Banten Agus M. Tauchid mengatakan, pihaknya sedang berupaya menggenjot produktivitas komoditas singkong di Banten. Tujuannya, Provinsi Banten ke depan diharapkan bisa menyuplai hasil produksi singkong bagi kebutuhan industri pembuat tepung tapioka, dan tepung singkong modifikasi atau mocaf yang ada di pulau Jawa.

“Tentunya upaya peningkatan produktivitas singkong di Provinsi Banten ini tidak hanya mengandalkan dana dari APBD ataupun APBN saja. Namun perlu adanya dukungan dari pihak pengusaha, salah satunya adalah PT Suara Rakyat Banten (SRB) ataupun Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) yang gencar melakukan aksi pencanangan penanaman singkong di sejumlah daerah Provinsi Banten,” ujarnya usai menghadiri aksi pencanangan penanaman singkong oleh PT Suara Rakyat Banten (SRB) di Sukawana, Kecamatan Curug, Kota Serang, Kamis (16/02/2012). @MANSAR

Sumber: www.koranbanten.com

Kamis, 09 Februari 2012

Tanaman Singkong Dibudidayakan

Serang – Tanaman singkong yang selama ini hanya menjadi bahan makanan tambahan bagi masyarakat Banten dan Indonesia pada umumnya, ternyata mempunyai nilai ekonomi yang tinggi bila dikelola dengan baik. Untuk itu, Masyarakat Singkong Indonesia dan PT Suara Rakyat Banten mulai mengembangkan penanaman singkong hingga ribuan hektar.

Ketua Masyarakat Singkong Indonesia Banten Aap Aptadi mengatakan, pada umumnya masyarakat Banten masih sangat enggan untuk membudidayakan tanaman singkong, hal ini dikarenakan masyarakat belum paham akan manfaat dan nilai ekonomis dari tanaman berjenis ketela pohon ini. “Masyarakat belum mengetahui manfaat tanaman singkong ini,” ujar Aap dalam acara Launching Budidaya Tanaman Singkong 1000 Hektare di Desa Sukawana Kecamatan Curug Kota Serang, Kamis (16/2).

Menurut Aap sejauh ini para pengurus Masyarakat Singkong Indonesia Banten telah menanam singkong hampir di beberapa kecamatan dengan luas area sekitar 200 hektar yang tersebar dibeberapa kecamatan di Kabupaten Pandeglang.

Penanaman singkong ini juga sekaligus untuk pememanfaatkan lahan tidur berbagai wilayah di Banten, seperti di Kabupaten Pandeglang saja, lahan tidur yaitu tidak tergarap sebanyak 47.000 hektar. “Berdasarkan aspek ekonomis akan tingginya nilai jual singkong, maka Masyarakat Singkong Indonesia Banten sangat tergugah untuk mengajak dan mensosialisasikan budidaya tanaman singkong ini,” kata Aap

Direktur Utama Suara Rakyat Banten Akhmad Jajuli mengatakan, program budidaya tanaman singkong tahun ini akan ditagret 3000 hektar yang di pusatkan di 4 Daerah yaitu Kabupaten Serang, Pandeglang, Lebak dan Kota Serang. “Dari 3000 hektare lahan tersebut pihaknya menargetkan produksi singkong 172.000 ton per tahun,” kata Akhmad Jajuli.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan siap membantu memfasilitasi terkait program budidaya tanaman singkong ini. Secara lebih khusus Pemprov menyambut baik keberadaan Masyarakat Singkong Indonesia Banten dan PT Suara rakyat Banten. “Kami berharap ada tindak lanjut yang sinergi dari semua elemen untuk mengembangkan, mengelola dan mengusahakan pembudidayaan singkong, sehingga kedepan mampu meningkatkan ekonomi Masyarakat Banten,” katanya. (sp)


Sumber : www.mediabanten.com

Sabtu, 24 Desember 2011

Gerakan Nasional SSB Pada HUT Masyarakat Singkong Indonesia

Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) provinsi Banten terpilih sebagai tuan rumah dalam penyelenggaraan ulang tahun MSI yang ke-2, pada hari Selasa 28 Februari 2012, demikian disampaikan ketua-1 MSI Pusat H. Suharyo Husen, BSc, SE, MBA. pada rapat Pleno MSI, di Pondok Ratna Farm Bogor (23/11).

Dalam acara ulang tahun Masyarakat Singkong Indonesia tersebut (28 sd. 29 Febuari 2012) akan digelar seminar dan pameran singkong tingkat nasional. Dan akan dicanangkan “Gerakan Nasional Singkong Sejahtera Bersama (GERNAS SSB)”.

Suharyo Husen menambahkan acara HUT Masyarakat Singkong Indonesia rencana nya akan dibuka oleh Mentri Perindustrian RI. Bapak M.S. Hidayat dan akan menyampaikan ”Kebijakan Pembangunan Industri Nasional Dalam Mendukung Industri Mocaf dan Tapioka/Starch di Indonesia” dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh Ketua Umum MSI Ibu Marwah Daud dan diserahkan kepada Menteri Perindustrian dan Gubernur Banten Ratu Atut.

Para pakar dan praktisi singkong dari pemerintah dan swasta, akan diundang sebagai pembicara dalam Seminar Singkong Tingkat Nasional, rencananya antara lain Ibu Euis Saedah, Dirjen IKM, Kem. Perindustrian akan menyampaikan tentang “Bantuan teknik kepada Pembangunan Industri Mocaf dan Tapioka”.

Prof. Dr. Zainal, Dirjen BP2HP, Kem. Pertanian menyampaikan ”Dukungan Kementrian Pertanian Kepada Agribisnis Singkong untuk meningkatkan kesejahteraan petani”, kemudian Dr, Ahmad Subagio, Tiga Pilar ”Industri Mocaf dalam Mendukung Diversifikasi Pangan Nasional.

Pembicara lainnya Ketua Komite Tetap Ketahanan Pangan Kadin Indonesia /Indofood sukses makmur, Franciscus Welirang dengan materi ”Mocaf dan Tapioka mendukung Feed Indonesia Feed The World”, selanjutnya Kepala Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Dr Astu akan memaparkan ”Ketersediaan Teknologi didalam mendukung Pembangunan Industri Mocaf dan Tapioka/Starch di Indonesia.

Gubenur Jawa Timur, Soekarwo akan memaparkan ”Kebijakan Daerah dalam Mendukung Pembangunan Industri mocaf di Jawa Timur” selain itu juga akan di undang untuk berbicara Direktur Utama Bursa Komoditi Produk Derivatif Indonesia(BKPDI).

Selain itu akan dipaparkan dan diskusi tentang studi kasus ”Mocaf dari Trenggalek oleh Koperasi.” dan ”Tapioka Banten untuk meningkatkan kesejahteraan Petani Banten” oleh Drs Aap Aptadi MBA, Ketua MSI Banten (RhP/msi)

Download Document Masyarakat Singkong Indonesia