Tampilkan postingan dengan label singkong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label singkong. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Juni 2015

Penawaran Kerjasama Investasi Kluster Singkong Terpadu MSI

Masyarakat Singkong Indonesia (MSI)  menawarkan Investasi Klaster Singkong Terpadu dengan luasan 30 Ha/Klaster dengan biaya Rp 1,1 M/klaster,
Sistem bagi hasil MSI : Investor = 50 : 50.
 ( MSI mewakili petani peserta Klaster )

Lihat Lampiran dokumen PDF
(1) Penawaran peluang Investasi;
(2) Contoh Klaster 30 Ha memproduksi Chips Mocaf dan Chips tepung, bioethanol, dan pakan ternak;
(3) Contoh Klaster 30 Ha untuk memproduksi singkong kupas untuk mensupply 170 pabrik krosok ( tapioka 80 MES ).

BagiPara Investor dari dalam dan luar negeri yang berminat
Silahkan menghubungi:

H. Suharyo Husen, BSc, SE, MBA
Ketua Umum, Dewan Pimpinan Nasional (DPN)
Masyarakat Singkong Indonesia (MSI)

Kantor Pusat MSI, 
Pondok Ratna Farm (PRF) Jl. Raya Tapos no.10, Kp. Cukanggaleuh 1, Ds. Jambuluwuk,
Kec. Ciawi, Bogor 16720.
HP/Mobile : +62-816.863.703 dan
Email : suharyohusen13@gmail.com



2.


3.

Jumat, 17 Mei 2013

Investigating molecular determinants for abiotic stress resistance in cassava – a focus on post-harvest physiological deterioration

Project leader : Wilhelm Gruissem, Plant Biotechnology Lab
Research fellow : Ima Mulyama ZAINUDDIN
Collaborators : Herve Vanderschuren, ETH Zurich, Switzerland; Enny Sudarmonowati, Research Center for Biotechnology - LIPI
Duration : August 2011 – August 2014

Cassava is the staple food of nearly one billion people in 105 countries and the fourth most important crop in the developing world. In Indonesia, cassava is consumed as an alternative food to rice and used as animal feed because of its relative cheaper price. Indonesian cassava production is supposed to meet domestic industry and overseas demand. Although large areas are suitable to grow cassava and a higher price is offered in recent years, cassava production in Indonesia can only meet 5% of the demand (according to Indonesian Cassava Society (ICS) records).

Despite its demonstrated potential, several important constraints limit cassava production. One of the major limitations in cassava production is the post-harvest physiological deterioration (PPD), which renders the roots unpalatable and unmarketable within 24-72 hours depending on the genotypes and environmental conditions. PPD is characterised by a blue-black streaking of the vascular tissues. It forces farmers to sell fresh cassava roots or to process them rapidly after harvest as root deterioration is leading to price reduction and, eventually, to its use as feedstock. Losses due to PPD are increasing when the production site is distant from the market site. 

The project aims at characterising the natural PPD tolerance in selected cassava accessions available at the Indonesian Institute of Sciences (LIPI) in Cibinong, Indonesia. During the first year of the project, the best performing accessions will be identified using standardised PPD assessment protocols that will be established at LIPI. Selected genotypes with delayed PPD will be tested in collaboration with a local small and medium-sized enterprise as part of LIPI activities on deployment of improved cassava accessions. This approach permits to have an immediate impact for Indonesian cassava growers and industries. In addition, we will use a subset of 20 accessions contrasting for PPD score for enzymatic assays and secondary metabolites measurements. During the second and third year of the project, four contrasting genotypes will be selected for label-free proteomics studies at the ETH Zurich in collaboration with the Functional Genomics Center Zurich. We will perform correlation analysis between proteome modulation and PPD tolerance in order to decipher new markers involved in PPD tolerance. 

Field evaluation of cassava accessions allows for generating an immediate output for Indonesian cassava production. Furthermore, the project builds on the use of cutting edge technologies to investigate molecular determinants for PPD tolerance. Development and implementation of molecular techniques will be particularly instrumental in improving cassava in Indonesia.

source: http://www.northsouth.ethz.ch/programmes/sawiris/sawiris_5

Singkong Transgenik untuk Lahan Kering


LIPI Teliti Singkong Transgenik untuk Lahan Kering.

JAKARTA--MI: Dalam menyiasati perubahan iklim yang lebih kering di masa depan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia sudah mulai melakukan sejumlah penelitian rekayasa genetika tanaman pangan. Salah satunya adalah pada tanaman ubi kayu atau mannihot esculenta.

"Misalnya gen penyandi phytoenesynthase (Psy) yang terlibat dalam biosintesis beta karoten pada ubi kayu sudah diidentifikasi dan sudah di-sequence untuk konfirmasinya," kata peneliti pada puslit Biotekologi LIPI Prof Dr. Enny Sudarmonowati yang baru saja dikukuhkan sebagai profesor riset oleh LIPI di Jakarta, Senin (24/5).

Gen yang diperoleh ini akan diintroduksi kembali ke tanaman ubi kayu melalui transformasi genetik yang tekniknya telah dikuasai sehingga diharapkan tidak lagi mengalami kesulitan di masa datang, ujar Enny. Beta karoten yang diduga berkorelasi dengan ketahanan terhadap kekeringan, ujarnya, sudah bisa ditingkatkan dalam penelitian tersebut.

Upaya menghasilkan ubi kayu yang mengandung kadar amilosa lebih tinggi juga sedang dilakukan, ujar Enny, bahkan upaya untuk menghasilkan ubi kayu dengan amilosa lebih rendah sudah sampai di lapang uji terbatas hingga generasi kelima dan merupakan riset ubi kayu transgenik pertama di dunia untuk varietas Indonesia. Amilosa merupakan komponen pati selain amilopektin yang komposisinya secara alami adalah 20 persen untuk amilosa dan 80 persen untuk amilopektin.

"Amilosa jika dikurangi persentasenya akan semakin baik bagi pengolahan pada industri kertas dan tekstil karena pengolahannya menjadi lebih mudah. Di LIPI sudah terbukti kandungan amilosanya bisa dikurangi jadi hanya dua hingga tiga persen dari yang alaminya 20 persen dengan cara transgenik ini," katanya.

Sedangkan kadar amilosa tinggi (amilopektin rendah) diperlukan untuk industri pangan, khususnya makanan bagi orang yang memiliki masalah dengan pencernaan dan untuk obat-obatan pada industri farmasi, tambahnya.

Penelitian bioteknologi untuk pasca panen ubi kayu menurut dia juga sudah dilakukan, seperti untuk meningkatkan masa simpannya setelah panen dari lima hari ditingkatkan menjadi 12 hari. Selain itu biofortifikasi (menambahkan zat gizi pada tanaman) juga sudah dilakukan terhadap singkong ini seperti memasukkan zat besi dan seng, tambah Enny.(Ant/pj/OL-04)


Sumber : Media Indonesia

Kamis, 25 April 2013

Paket Investasi Klaster Chips Cassava (PAKET-A)

INVESTASI PAKET-A SATU KLASTER CHIPS SINGKONG

PENDAHULUAN
1. TUJUAN KLASTER : Memproduksi Chips Kering 12-13 %
2. NILAI INVESTASI : Rp 10 Milyar, yang diperuntukan bagi :
-120 Petani Singkong dengan luas 300 Ha@Rp 32.000.000/Ha ;
-Kebun bibit MSI 20 Ha ;
-Prasarana klaster : jalan klaster, pabrik chips dan kantor KOPSINDO /pengelola
3. KOPESINDO memproduksi chips singkong kering dari singkong yang diproduksi oleh petani peserta klaster,berdasarkan fee dari petani;
4. PT. AKPI Maju Bersama bertugas memasarkan Chips berdasarkan fee dari KOPESINDO.
5. Dasar kerjasama : MOU Investor-MSI

PENDANAAN & BAGI HASIL
PENDANA : Investor (5 tahun)
SISTEM : Bagi Hasil
TH.1 : Masa Penanaman dan Pemeliharaan/panen tanaman tumpang sari ( jagung ),utk.petani;
TH.2 : Masa Produksi dan mulai bagi hasil (Investor 70% : Petani 30% );
TH.3 -5 :Bagi Hasil ( Investor 30% : Petani 70%)

ASUMSI
1 (Satu) Klaster : 330 Ha
- 300 Ha untuk petani;
- 20 Ha untuk pembibitan
- 10 Ha untuk prasarana jalan , pabrik , gudang dan kantor
1 (Satu) KK Petani : 2,5 Ha
Jumlah petani : 120 KK ( 4 orang/KK )
Varietas singkong : Darul Hidayah atau Manggu yang produksivitasnya 100 ton/Ha atau 32 ton chips/Ha dengan kekeringan 12%-13% ( rendemen 30% dari singkong basah ke Chips kering );
Biaya produksi 32 ton chips kering dari 1 Ha lahan sebesar : Rp 32.000.000,-
Pembeli Chips : PT Indofood Sukses Makmur Tbk (sudah ada MOU antara MSI dgn Indofood)

BIAYA PRODUKSI CHIPS KERING PER HEKTAR BULAN KE-11 S/D KE-20
1. Sewa lahan 1 Ha 5 tahun : 5 x Rp 1 jt =Rp 5 jt.
2. Sewa traktor untuk 1 Ha : Rp 2 juta
3. Bibit 10.000 x Rp 500 = Rp 5 juta
4. Upah tanam 10.000xRp100 = Rp 1 juta
5. Pupuk organik 10 ton xRp 700 ribu=Rp7 juta
6. Obat pertanian = 1 kg x Rp 200.000=Rp200 ribu
7. Upah panen 10.000xRp 300= Rp 3 juta
8. Biaya alat slicer dan pengering 1 Ha = Rp 7 juta
9. Management MSI termasuk transportasi pemasaran =
Rp 1,8 juta/Ha
10. TOTAL BIAYA PRODUKSI : Rp 32 juta/Ha

PENERIMAAN PETANI DAN INVESTOR BULAN KE 11- KE 20
PETANI :
-120 petani dalam 1 klaster akan menanam 30 Ha/bulan.
-Pada bulan ke-11 akan mulai panen : 30 x 100 ton singkong = 3000 ton singkong atau 1.000 Ton Chips singkong kering 12-13%.
- Nilai jual 1000 ton chips x Rp 2000 = Rp 2 M
-Penerimaan kotor Rp 2 M – Rp 1 M (biaya produksi)=Rp 1 M.
-Pendapatan Petani 30%xRp1M = Rp 300 juta/120 petani atau Rp Rp 2,5 juta/petani/bulan.

INVESTOR :
-Pengembalian investasi RP 1 M/bulan (biaya produksi)
-Pendapatan 70%xRp 1 M = Rp 700 juta/bulan (10% untuk MSI)

BIAYA PRODUKSI CHIPS PER HEKTAR BULAN KE21-KE60
1. Sewa lahan : Rp 0
2. Sewa Traktor : Rp 2 juta/Ha
3. Bibit singkong : Rp 0 (pakai bibit sendiri)
4. Pupuk organik 50% : Rp 4 juta
5. Obat pertanian 1 Kg : Rp 0,3 juta
6. Upah tanam : Rp 2 juta
7. Upah Panen : Rp 4 juta
8. Biaya alat slicer & dryer : Rp 0 ( bln. ke 20 sudah lunas)
9. Biaya Mgn & pemasaran : Rp 1,8 juta
TOTAL BIAYA PRODUKSI : RP 14,1 JUTA/Ha

PENERIMAAN DAN PENDAPATAN PETANI DAN INVESTOR bulan ke-21-60
1. PENERIMAAN PER BULAN :
-Dari lahan 30 Ha a’100 Ton singkong = 3000 Ton singkong atau 1000 Ton Chips kering 12-13% a’Rp 2.000/Kg = Rp 2 M
- Biaya produksi Chips a’Rp14,5juta/Ha = 30 Ha x Rp 14,1 juta = Rp 423 juta/bulan.
- Penerimaan: Rp 2 M – Rp 423 juta = Rp 1,577 M
2. PENDAPATAN :
- Petani : 70%xRp 1,577 M = Rp 1,104 M/120
petani atau Rp 9,2 juta,-/petani/bulan
- Investor : 30% x Rp 1,577 M = Rp 473,1 juta/bulan
( 10% untuk MSI ).

PENERIMAAN KOPERASI PETANI SINGKONG INDONESIA (KOPESINDO)/BULAN
PENERIMAAN :
1. KOPESINDO menerima pendapatan dari para petani sebagai fee.
2. Untuk bulan ke 11 – ke 20:
- KOPESINDO akan menerima Rp 100/Kg Chips, maka untuk 1000 Ton Chips/bulan dari lahan 30 Ha/bulan
= 1000 Ton x Rp 100 = Rp 100 juta/bulan (Rp 50 juta/bln fee pemasaran AKPI )
3. Untuk bulan ke 21 – ke 60 :
- KOPESINDO akan menerima Rp 300/Kg Chips,maka untuk 1000 Ton Chips/bulan = 1000 Ton x Rp300/Kg = Rp 300 juta/bulan ( Rp 100 juta/bln fee pemasaran AKPI)

PENDAPATAN PT. AKPI MAJU BERSAMA
FEE JASA PEMASARAN ;
1. PT. AKPI menerima fee dari KOPESINDO sebagai jasa pemasaran ( sesuai MOU antara MSI dengan PT. AKPI ).
2. Untuk bulan ke-11 s/d ke-20 , PT. AKPI akan menerima Fee dari Kopesindo Rp 50/kg , maka untuk 1 bulan akan diterima : 1000 Ton Chips x Rp 50/Kg = Rp 50 juta/bulan (10% untuk MSI)
3. Untuk bulan ke-21 s/d ke-60, PT.AKPI akan menerima Fee dari Kopesindo Rp 100/kg, maka untuk 1 bulan akan diterima : 1000 Ton Chips x Rp 100/Kg = Rp 100 juta/bulan (10% untuk MSI)

-------
Semua Investor yang berminat dibuatkan MOU dengan MSI Pusat (Koordinator Invstasi MSI ) dan diketahui oleh Ketua Umum MSI.


Salam MSI,
H. Suharyo Husen BSc, SE, MBA
Ketua Umum DPN MSI

Masyarakat Singkong Indonesia

Selasa, 29 Januari 2013

Singkong dan Sabut Kelapa

Ketua Umum Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI), Efli Ramli Elfi, menyambut baik tawaran kerjasama Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) untuk menggenjot produksi singkong demi mengurangi ketergantungan pada impor gandum.

Ini menyusul sukses ujicoba penanaman singkong di lahan tandus dengan aplikasi serbuk sabut kelapa (coco peat) yang menghasilkan singkong sebanyak 500 sampai 800 ton per hektar.

Menurut Efli Ramli Elfi, " Selain dapat meningkatkan produktivitas lahan, kata dia, penggunaan aplikasi serbuk sabut kelapa pada tanaman singkong juga memudahkan proses panen karena tanah yang mengikat batang singkong dan umbi selalu dalam kondisi gembur dan lembab. "

Ketua Umum MSI, Suharyo Husen, mengapresiasi inovasi AISKI yang berhasil meningkatkan produktivitas tanaman singkong dengan aplikasi serbuk sabut kelapa.

Suharyo yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komite Tetap Industri Derivatif Pertanian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) ini, mengatakan acara temu pakar, tanggal 30 Januari 2013, yang rencananya digelar di Tapos, Ciawi, Bogor, Jawa Barat tersebut, akan dihadiri sekitar 60 pakar singkong dan ahli pertanian Indonesia.

"Sekitar 60 pakar telah diundang untuk bicara tentang produktivitas, tapioka, mocaf (modified cassava flour) dan pemasaran. MSI siap bekerja sama dengan AISKI untuk mensejahterakan petani kelapa dan petani singkong Indonesia," kata Suharyo.

Sebagaimana diketahui, untuk dapat berproduksi optimal, tanaman singkong membutuhkan curah hujan 150-200 mm pada umur 1-3 bulan, 250-300 mm pada umur 4-7 bulan, dan 100-150 mm pada fase menjelang dan saat panen.

Namun, dengan kemampuan serbuk sabut kelapa yang dapat menyerap dan menyimpan air 300 persen lebih dari kemampuan lahan, menjadikan tanaman singkong dapat tumbuh survive di musim kemarau.

Serbuk sabut kelapa memiliki kandungan trichoderma molds, sejenis enzim dari jamur yang dapat mengurangi penyakit dalam tanah, menjaga tanah tetap gembur, subur dan memudahkan umbi pada tanaman singkong tumbuh dengan cepat, besar, dan panjang.

Selain itu, ia juga memiliki pori-pori yang memudahkan terjadinya pertukaran udara, dan masuknya sinar matahari. Di dalam coco peat juga terkandung unsur-unsur hara dari alam yang sangat dibutuhkan tanaman, berupa kalsium (Ca), magnesium (Mg), natrium (Na), nitrogen (N), fospor (P), dan kalium (K).

Referensi
http://www.suarapembaruan.com/home/aiski-genjot-produksi-singkong-kurangi-impor-gandum/29843
http://www.tribunnews.com/2013/01/14/tiara-panen-singkong-800-ton-per-hektar-berkat-coco-peat

Sabtu, 15 Desember 2012

IMPOR SINGKONG PELUANG EMAS BAGI MSI DAN INDONESIA

IMPOR SINGKONG PELUANG MOTIVASI MASYARAKAT SINGKONG INDONESIA (MSI) DAN PEMERINTAH INDONESIA UNTUK MENINGKATKAN DAYA SAING SINGKONG INDONESIA: KUALITAS DAN KUANTITAS.

Oleh: H. SUHARYO HUSEN, BSC, SE, MBA. 
 Ketua  Umum MSI NASIONAL


I. LATAR BELAKANG
1. INDONESIA IMPORTIR SINGKONG TERBESAR
Kamis 13 Desember 2012. Metrotvnews.com, Jakarta, memberitakan selama bertahun-tahun Indonesia menjadi importir singkong terbesar dibandingkan negara-negara lain. Hal tersebut disampaikan pengamat pertanian Bustanul Arifin.

Menurut data yang dirilis oleh Thai Tapioka Trade Organization (TTTO), Indonesia mengimpor singkong dari Thailand sebesar dua juta ton. Menurut Bustanul, itu membuktikan kurangnya peran pemerintah untuk mengawasi sektor pertanian, dalam meningkatkan produksi pangan dalam negeri.  Padahal, sebenarnya Indonesia mampu memproduksi singkong 28 juta ton. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan Thailand yang hanya memproduksi 26 juta ton.

Akan tetapi, menurut Bustanul, penyebab impor adalah besarnya kebutuhan sektor industri yang menggunakan bahan baku singkong. Pemerintah, kata Bustanul, harus segera mengambil langkah untuk memperbaiki kondisi pangan dalam negeri. Selama ini singkong hanya dihargai rendah. Pada saat panen, harga jatuh. Ini membuat para petani tidak bergairah menanam singkong.(DNI)


2. PERKEMBANGAN SINGKONG DI INDONESIA
2.1 Menurut Data BPS luas area tanaman singkong tahun 2011 tercatat 1,2 juta Ha dengan produksi 23 juta ton singkong segar setara dengan 8 juta ton chips singkong atau 6,4 juta ton tepung singkong.

2.2 Industri kecil, menengah, dan besar berbahan baku singkong terus tumbuh sampai mereka kesulitan bahan baku sudah berjalan cukup lama, terutama di Lampung dan Jawa Barat;

2.3 Singkong sebagai bahan pangan pokok alternatif mendukung diversifikasi pangan nasional telah masuk ke jajaran Kadin Indonesia, menjadi salah satu komoditas strategis pangan nasional.

2.4 Mulai 28 Febuari 2010 telah berdiri Masyarakat Singkong Indonesai (MSI) dengan Visi Singkong Sejahtera Bersama , dengan Misi Mensejahterakan petani.

2.5 Tanggal 28 Februari 2011 pada HUT MSI I di Pondok Ratna Farm Ciawi Bogor, Menteri Pertanian RI bersama Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) telah mencanangkan program : “PENGEMBANGAN KLASTER AGROINDUSTRI SINGKONG TERPADU”

2.6 Tanggal 28 Febuari 2012 di Pandeglang, Banten dalam rangka hut MSI ke-2, Menteri Perindustrian RI dan Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) telah mencanangkan : “GERAKAN NASIONAL SINGKONG SEJAHTER BERSAMA (GERNAS SSB) 2012-2016“. 

2.7 Sampai Desember 2012 telah terbentuk 25 MSI Provinsi dan 75 MSI Kabupaten/Kota yang siap melaksanakan Gernas SSB 2012-2016.

2.8 Dewan Pimpinan MSI Nasional telah mengirim surat kepada Menko Perekonomian RI dan Ketua Komisi IV DPR RI untuk :
2.8.1. Menetapkan singkong sebagai komoditas strategis pangan utama setingkat dengan padi, jagung dan kedelai
2.8.2. Tepung singkong dibebaskan dari pengenaan PPN 10% atau PPN 10% ditanggung oleh pemerintah
2.8.3. Dukungan kepada Menteri BUMN untuk mengucurkan CSR dari BUMN untuk mendukung pelaksanaan GERNAS SSB 2013-2016 untuk memproduksi tepung singkong sebanyak :
a. Tahun 2013 memproduksi 1,2 juta ton tepung singkong
b. Tahun 2014 memproduksi 2,4 juta ton tepung singkong
c. Tahun 2015 memproduksi 4,8 juta ton tepung singkong
d. Tahun 2016 memproduksi 9,6 juta ton tepung singkong

2.9 Dewan Pimpinan Nasional MSI telah mengirim surat dan program GERNAS SSB 2013-2016 kepada menteri BUMN RI untuk mohon dukungan dana CSR dari BUMN untuk pelaksanaan GERNAS SSB 2013-2016.

2.10 Berdasarkan dukungan dana CSR dari BUMN tersebut pada butir 2.9. dan perkiraan hasil pelaksanaan GERNAS SSB 2013-2016 seperti pada butir 2.8. tersebut diatas, mulai tahun 2013-2016 Indonesia akan dapat mengurangi import gandum sekitar 20-40%. Maka akan terjadi penghematan devisa negara.

2.11 Dengan adanya import singkong yang semakin meningkat sampai mencapai sekitar 2 juta ton tahun 2012, merupakan peluang emas bagi MSI dan Pemerintah Indonesia untuk memotivasi peningkatan produksi tepung berbahan baku singkong (Tapioca Starch, Cassava Flour dan Mocaf) melalui pelaksanaan program GERNAS SSB 2013-2016 diseluruh Indonesia.

2.12 Dengan berhasilnya pelaksanaan GERNAS SSB 2013-2016 diharapkan mulai tahun 2013-2016 dan seterusnya Indonesia akan menjadi exportir tepung singkong terbesar (Tapioca Starch, Cassava Flour dan Mocaf). Singkong akan menjadi pemasuk devisa bagi negara.


II. SINGKONG DAN TEPUNG SINGKONG



III. GERAKAN NASIONAL SINGKONG SEJAHTERA BERSAMA (GERNAS SSB)

1. Untuk mencapai Singkong Sejahtera Bersama (SSB), maka Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) telah meluncurkan kegiatan Proyek : “ PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI AGRO SINGKONG TERPADU “.

2. Melalui Pengembangan Klaster ini, para petani peserta Klaster dilatih mengolah singkong untuk menghasilkan produk setengah jadi ( chips, gaplek, tepung singkong , mocaf, tapioka dsb) sebagai bahan baku industri lanjutan atau industri derivatif, sehingga petani hanya menjual barang-barang setengah jadi tersebut

3. Ditargetkan tahun 2016 petani singkong di Indonesia tidak menjual singkong segar lagi dan tidak lagi mempermasalahkan “ harga singkong rendah “, tapi yang menjadi acuan petani “ harga chips singkong kering. 

4. Berdasarkan program Klaster tersebut, maka Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) mulai tahun 2012 meluncurkan : “ GERAKAN NASIONAL SINGKONG SEJAHTERA BERSAMA ATAU GERNAS SSB “ , Phase I , 5 Tahun , mulai tahun 2012 -2016,dengan target :

4.1 Th. 2012 (Februari) : Sosialisasi GERNAS SSB keseluruh Kab/Kota yang telah ada MSI-nya (16 Propinsi dan 50 Kabupaten).

4.2 Tahun 2013 : Pelaksanaan Pilot Proyek di 50 Kabupaten/Kota sebanyak 150 Klaster atau 3 klaster per Kabupaten/Kota, yaitu masing-masing , 1 klaster Petani, 1 klaster buruh tani dan 1 klaster pemuda/pemudi tani . Total biaya 150 klaster a’Rp 20 Milyar/klaster = Rp 3 Triliyun ( CSR BUMN) dengan melibatkan 18.000 KK petani atau 72.000 orang ( 1 KK = 4 orang, bapak, ibu dan 2 anak ). 150x300 Hax100 T=4,5 juta ton singkong segar= 1,5 juta chips singkong = 1,2 juta ton Tepung Singkong

4.3 Tahun 2014 : Pelaksanaan Proyek 300 klaster (ada penambahan 150 klaster dengan biaya tambahan Rp 3 Triliyun ( CSR BUMN phase ke-2 ) di 50 Kabupaten/kota di 16 propinsi, melibatkan 36.000 KK petani atau 144.000 orang. Produksi : 300x300Hax100 Ton = 9 juta ton singkong = 3 juta ton chips Singkong = 2,4 juta ton setara tepung singkong.

4.4 Tahun 2015 : Perluasan MSI ke 17 Propinsi lainnya, sehingga menjadi 33 propinsi, dengan pelaksanaan proyek 600 Klaster , biaya dari pengembanlian CSR pase-1 , dengan melibatkan 72.000 KK petani atau 288.000 orang diseluruh Kabupaten/Kota yang telah ada MSI-nya di 33 Provinsi. Produksi : 600x300x100ton=18 juta ton singkong= 6 juta ton chips = 4,8 ton setara tepung singkong.

4.5 Tahun 2016 : Diteruskan melaksanakan 1.200 Klaster a’ 300 ha/klaster dengan melibatkan
144.000 KK atau 576.000 orang. Biaya dari pengembalian CSR pase ke-2 oleh petani peserta terdahulu.

4.6 Pada tahun 2016 tersebut akan dihasilkan singkong Darul Hidayah atau Manggu sebanyak 1.200 Klaster x 300 ha x 100 ton/ha = 36 juta ton singkong basah atau setara dengan 12 juta ton chips singkong Setara dengan 9,6 juta tong tepung singkong/Mocaf.

4.7 Apabila harga chips a’Rp 2.000/Kg, maka akan ada uang beredar sekitar Rp 24T ditambah peredaran uang dari hasil penjualan 9,6 juta ton mocaf (1 kg chips = 0,8 kg mocaf) a’ Rp 3.500/kg sekitar Rp 33,6 T. Sehingga total uang beredar pada akhir GERNAS SSB (thn 2016) akan mencapai Rp 57,6 T.

4.8 Jadi pada tahun th.2016 dana beredar di lingkup petani peserta klaster di seluruh Kabupaten/Kota di 33 Provinsi sebesar Rp 57,6 Triliyun (dari dana awal Rp 6 Triliyun) dan dapat mensejahterakan 144.000 KK petani atau 576.000 jiwa ( 1 KK petani terdiri 4 orang, ayah, ibu dan 2 anak).

Dengan dicanangkannya Gerakan Nasional Singkong Sejahtera Bersama ( GERNAS SSB ) phase I, 2012-2016, maka penanganan singkong diseluruh tanah air secara profesional akan dapat mensejahterkan rakyat Indonesia dan Ketahanan Pangan Nasional semakin kuat. Apabila seluruhnya memproduksi mocaf akan dihasilkan 9,6 juta TON MOCAF dan sebagian dapat dicampur dengan tepung terigu sehingga dapat mengurangi impor gandum. Penghematan devisa nasional. Sisa mocaf untuk expor.

GERNAS SSB phase I, 2012-2016 dengan biaya Rp 6 Triliyun menjadi Rp 57,6 T dan secara kumulatif 2013-2016 dapat mensejahterakan 270.000 KK petani atau 1.080.000 jiwa ( 1 kk terdiri dari 4 orang : ayah, ibu dan 2 anak ). Belum termasuk multiplier effect dari bisnis singkong dan produk sampingannya (bibit, pakan ternak dan pupuk organik), diperkirakan akan mensejahterakan diatas 3 juta orang dan uang beredar akan mencapai lebih dari Rp 100 Triliyun.

Bogor, 15 Desember 2012
Masyarakat Singkong Indonesia
Dewan Pimpinan Nasional (DPN)
Ketua Umum
H. SUHARYO HUSEN, BSC, SE, MBA











Minggu, 25 November 2012

Sarasehan Kebangsaan Menuju Era Baru Nasionalisme Ekonomi Indonesia

Bandung, MSI-News - Kurang Lebih 400 peserta menghadiri Sarasehan "MENUJU ERA BARU NASIONALISME EKONOMI INDONESIA", yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni ITB, di Bandung, Sabtu (24/11).

Peserta yang hadir antaralain Alumni ITB, pimpinan daerah atau kepala daerah provinsi dan kabupatan/kota, pimpinan perbankan, pemuka agama, pemangku adat masyarakat lokal, pengusaha, budayawan, aktivis LSM, perguruan tinggi, pengamat/peneliti, perwakilan organisasi masyarakat (ormas), Masyarakat Singkong Indonesia (MSI), media massa, dan politisi tingkat nasional.

Tema yang dibahas dalam Sarasehan ini, adalah pembangunan agroindustri menuju kemandirian pangan, skenario membangun kemandirian energi nasional, konektivitas nasional menuju ekonomi berdaya saing, skenario kebijakan moneter dan fiskal dalam mendorong sektor riil dan keuangan menuju ekonomi nasional yang kuat, peningkatan kesejahteraan sosial berbasis "people centered development", dan membangun tata kelola pemerintahan yang berpihak kepada rakyat.

Pembahasan dilakukan  oleh peserta sarasehan, dengan diskusi yang terbagi dalam grup atau komisi sesuai minat dan keahliannya untuk menghasilkan berbagai kesimpulan maupun rekomendasi.

Pembicara utama (keynote speech) adalah Menteri Koordinator Perekonomian RI Hatta Rajasa, dengan topik "Nasionalisme dan Pembangunan Berkualitas". Hatta menyampaikan tentang kedaulatan dan kemandirian ekonomi bangsa, serta terlibat dalam rangkaian diskusi dan perumusan rekomendasi selama sehari penuh dalam berbagai tema yang dibahas dalam sarasehan kebangsaan itu.

 Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) dalam Saresehan ini turut aktif memberi masukan dalam diskusi panel yg dilakukan setelah rehat siang, yaitu diwakili oleh:

1. Prof. Suharyo Husen (Ketua MSI Pusat) mewakili MSI dlm diskusi Panel "Pembangunan agroindustri menuju kemandirian pangan". diruang Aula Timur ITB.

2. Yoyok Wastoyo (MSI-Pusat ) mewakili MSI dlm diskusi Panel "Kesejahteraan Sosial & reformasi Birokasi". di ruang 3102 Teknik Geodesi ITB.

3. Ir. Susilohadi (MSI-Pusat) mewakili MSI dlm diskusi Panel "Konektivitas Nasional menuju Ekonomi berdaya saing". di ruang Student Center Timur ITB.   (SH/RhP)


by Susilohadi
Editor Rhino HP

Rabu, 14 November 2012

Produk Unggulan Singkong hadir di PRUKAB Investment Day

Kementerian Pembangunan Daerah Tertingga (KPDT)    menyelenggarakan PRUKAB Investment Day dari tanggal 13 - 18 Nov 2012 di Museum Nasional, Jl. Medan Merdeka Barat 12 Jakarta.

Rangkaian acaranya terdiri dari Pameran,Temu Bisnis, Seminar, Pagelaran Budaya Seni, Wisata Kuliner dan Lomba Paduan Suara tingkat SMP-SMA.

Pembuakaan dan Sambutan oleh Menteri PDT Helmy Faishal Zaini

 Sebanyak 183 Kabupaten daerah tertinggal memamerkan produknya, tak ketinggalan produk unggulan dan aneka makanan yang terbuat dari singkong dan sorgum di pamerkan  pada Stand Masyarakat singkong Indonesia.

Stand Masyarakat Singkong Indonesia - Prukab


 Pameran Produk Unggulan Kabupaten yang salah satunya adalah produk-produk  singkong merupakan suatu trobosan untuk meningkatkan pendapatan daerah tertinggal antara lain: gaplek, tepung singkong, tapioka, Mocaf (modified Cassava Flour) dan lain-lain.

Ketua MSI.  Suharyo Husen  dan Produk unggulan dari singkong


PRUKAB Investment Day Diselenggarakan dalam rangka mendukung dan mengenalkan Prukab kepada khalayak dan menarik dunia usaha untuk invetasi di Daerah Tertinggal

Aneka makanan (Cassava Cake)  yang terbuat dari singkong MSI-Prukab


Kementrian PDT RI menghimbau "Bangkitkan Semangat Cinta Tanah Air dan bangsa dimulai dari membangun Daerah!"..

Dan pada talk show  yang diadakan dalam acara tersebut   telah dipromosikan GERNAS SINGKONG SEJAHTERA BERSAMA (GERNAS SSB) UNTUK MENSEJAHTERAKAN PETANI. Oleh Ketua Masyarakat Singkong Indonesia (MSI)  H. Suharyo Husen B.Sc, SE, MBA.




Datang dan kunjungingilah Kabupaten serta jangan lupa mampir ke Stand Masyarakat Singkong Indonesia. (Rhp/MSI).

Kamis, 30 Agustus 2012

Halal bi Halal Masyarakat Singkong Indonesia 2012

UNDANGAN HALAL BI HALAL 2012


Masyarakat singkong Indonesia (MSI) pusat, akan mengadakan acara halal bihalal, dengan tujuan mempererat tali silaturahmi sesama anggota MSI.

Halal bi halal tersebut akan diadakan pada hari Sabtu, tanggal 22 September 2012, jam 11.00 sampai selesai.
dan akan dilaksanakan di Kantor pusat MSI - Jln. Raya Tapos no. 10, Rt 01/02 Kp.Cukanggaleuh desa Jambu luwuk Kec. Ciawi, kab. Bogor, propinsi Jabar_16720.

Diharapkan dalam acara tersebut akan hadir Seluruh Anggota dan pengurus Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) Pusat, MSI Propinsi, MSI Kabupaten yang terdiri dari:Seluruh petani singkong di Indonesia;para pengusaha agribisnis singkong;Ilmuwan ; Para tenaga ahli terkait;Para industriawan terkait; Para pedagang terkait;Para peneliti; Para pengamat terkait; Para penyuluh pertanian; Dll Instansi, Perusahaan, Perorangan yang terkait dengan agribisnis singkong di Indonesia.


Selasa, 10 Maret 2009

Tentang Masyarakat Singkong Indonesia

Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) atau"Indonesian Cassava Society (ICS)" adalah organisasi masyarakat, yang anggotanya terdiri dari seluruh petani singkong di Indonesia; para pengusaha agribisnis singkong; ilmuwan; para tenaga ahli terkait; para industriawan terkait; para pedagang terkait; para peneliti; para pengamat terkait; para penyuluh pertanian; pegawai negeri sipil pusat dan daerah; para aparat terkait.

Organisasi ini dibentuk melalui suatu Deklarasi oleh para pendiri pada tanggal 28 Februari 2010 di Pondok Ratna Farm, Jl. Raya Tapos no.10 Kp Cukanggaleuh 1 RT 01/RW 02, Desa Jambuluwuk, Kecamatan Ciawi, Kab. Bogor, Provinsi Jawa Barat, Indonesia 16720.

Para pendirinya adalah DR Marwah Daud Ibrahim; H. Suharyo Husen, BSc, SE,MBA; Prof. DR. Winugroho, DR. Thamrin Chaniago; Prof.DR. Endang Sukara; Prof. DR.Elan Masbulan; Dra. Alita Nursanti; Ir. Miftah; Hj. Ratna Suningsih; Entang; Suparjan; Rommy; Yoyok Wastoyo; Pualam Puteh; Aidil Akbar.

MSI melalui budidaya singkong yang terintegrasi dengan penerapan modernisasi dan standarisasi teknologi, manajemen budidaya dan pengolahan hasil, dapat memberikan manfaat bagi semua pihak terkait (para pemangku kepentingan)

Logo
  • Coklat : singkong sebagai komoditas pokok
  • Kuning : nama organisasi dengan warna kuning emas yang mencerminkan bernilai tinggi dan lestari
  • Hijau : kesejahteraan bersama semua Pemangku kepentinganSingkong (petani, pengolah, dan pedagang singkong dan sebagainya

Visi:
Singkong Sejahtera Bersama (SSB)- Cassava for Mutual Prosperity


Misi :
  1. Mengembangkan agribisnis singkong bagi kesejahteraan bersama para pemangku kepentingan terkait;
  2. Meningkatkan daya saing komoditas singkong dan produk-produk dari singkong dipasar dalam dan luar negeri;
  3. Merumuskan dan menyampaikan bahan-bahan masukan kepada pemerintah dalam rangka menyusun kebijakan tentang singkong yang menguntungkan semua pihak;
  4. Mengusahakan dukungan pemerintah bagi pengembangan industri singkong terpadu yang menghasilkan produk-produk dari singkong yang diperlukan pasar dalam dan luar negeri;
  5. Memfasilitasi pengembangan sumber daya manusia untuk membangun agribisnis singkong dari hulu ke hilir;
  6. Secara terus menerus mempromosikan singkong dan produk-produk dari singkong;
  7. Mengembangkan dan memperluas pemasaran singkong dan produk-produk dari singkong;
  8. Meningkatkan pendapatan petani singkong secara signifikan, minimal Rp 3 juta perbulan/keluarga petani singkong;
  9. Meningkatkan tekhnologi agribisnis singkong dari hulu sampai hilir.

Program Kerja :
1. Program kerja jangka panjang :
a. Meningkatkan pendapatan petani singkong;
b. Bersama pemerintah menyusun dan membuat kebijakan yang menguntungkan semua pemangku kepentingan singkong , termasuk didalamnya : petani, pengolah, pedagang, konsumen baik didalam negeri maupun dikuar negeri;
c. Meningkatkan tekhnologi pengolahan singkong untuk berbagai keperluan, baik untuk pangan maupun untuk industri (non pangan) ;
d. Memasyarakatkan varietas-varietas unggul singkong kepada para petani singkong dalam rangka meningkatkan produktivitas dan meningkatkan produksi singkong termasuk didalamnya : Darul Hidayah, Manggu, MSI-I dan RS ;
e. Secara terus menerus meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan para pelaku agribisnis singkong termasuk petani, pengolah , pedaganga dan peneliti singkong;

2. Program kerja jangka menengah :
a. Meningkatkan produksi singkong secara periodik lima tahunan;
b. Meningkatkan pendapatan petani singkong dan keluarganya secara periodik lima tahunan;
c. Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan para pelaku agribisnis singkong dari hulu ke hilir secara periodik lima tahunan;
d. Mempromosikan singkong dan produk-produk dari singkong secara berkala lima tahunan;
e. Memperkuat permodalan para pelaku agribisnis singkong secara periodik lima tahunan, misalnya melalui pengembangan sistem klastering didalam sistim pengolahan agribisnis singkong ,termasuk pemasarannya;

3. Program kerja jangka pendek :
a. Menyelsaikan adminstrasi MSI , antara lain Anggaran Dasar, Anggarana Rumah Tangga, Akte Notaris dsb;
b. Mernginventaris varietas singkong yang dirilis pemeerintah dan temuan-temuan varitas baru singkong di masyarakat;
c. Mempersiapkan proyek pengembangan klaster singkong, termasuk industri pengolahan untuk berbagai produk olahan;
d. Mermbantu petani singkong memasarkan singkong mereka;
e. Membantu para pabrikan tapioka untuk memenuhi kebutuhan bahan baku singkongnya;
f. Menyusun rumusan klaster-klaster agribisnis singkong yang saling menguntungkan antara petani , pengolah dan pedagang;
g. Mendorong para petani singkong untuk bekerja sama sesama petani singkong, bergabung kedalam ASPESINDO ( Asosiasi Petani Singkong Indonesia );


Masyarakat Singkong Indonesia (MSI)
Indonesian Cassava Society (ICS)

Mr. Suharyo Husen
Chairman I